Minggu, 28 Juni 2015

Coretan Penting - Jangan Sebut Lagi



JANGAN SEBUT LAGI
Ahmad Zaelani

Perbincangan yang mungkin taka da hentinya terus bergulir baik itu pagi siang sore hingga malam. Kali ini ada gurauan penting tak penting yang ku rasa harus dibahas dan dianggap serius dan patut untuk diperbincangkan. Siang itu tepat pada hari jum’at pukul 12.40 waktu Indonesia bagian barat, diri ini dan dirinya kembali bergurau dan tentunya bukan bergurau secara langsung sebab seperti perkataannya Abdoel Moeis dalam bukunya Salah Asuhan yang mengatakan barat tinggalah barat dan timur tinggalah timur memang benarlah adanya, namun hanya berbeda konteks, Abdoel Moeis berbicara adat, diri ini berbicara lokasi antara diriku dan dirinya. Berbicara jarak, semoga hal itu bukan menjadi masalah yang rumit sebab sejauh apapun jarak ketika kasih dan sayang sudah memanggil untuk menjemput sang putri maka saat itu tak ada jarak sejangkal pun bagiku untuk dirinya (semoga hal ini tidak dianggap lelucon olehnya). Ku kira cukuplah mempersoalkan jarak, ini karena Abdoel Moeis saja.

Balik pada persoalan gurauan yang dianggap penting tak penting. Diri ini sangat nyaman sejatinya ketika berbincang apapun itu bersamanya, namun saat itu, pada siang itu ada yang sangat mengganggu mood ini dan mengacaukan segala pikiran nyaman dalam sebuah perbincangan yang sangat menarik antara diri ini dan dirinya. Sejak sebulan yang lalu, diri ini sudah memutuskan apa yang ingin ku lakukan agar semua terbebas dari jeratan asmara yang bisa dibilang bangsat itu. Diri ini sudah mengkokohkan niat dan sudah bisa berjalan lurus tanpa menengok kanan kiri bahkan ke belakang. Namun sayang dirinya belum sadar rupanya bahwa niat ini benar-benar sudah bulat akan tujuan yang lebih penting tentang seorang gadis yang membuatku nyaman berbincang dan bertukar garis 10 detik. Ingatlah apa yang kau katakan waktu itu yang diri ini lupa pada hari dan tanggal berapa yang jelas dirimu mengatakan bahwa kau akan membantuku untuk tidak menengok ke belakang, aku ingat kau mengatakan hal tersebut tepat pada pukul 9.55.

Jika dirimu itu menganggap bahwa setiap perkataan ini adalah palsu maka silahkan kau hapus histori dan laporkan tulisan-tulisan ini sebagai sampah yang tak berguna. Dalam tulisan sebelumnya diri ini sudah menjelaskan apa yang ku harapkan tentang tujuan diri ini melangkah dan terus menunggu hingga sekat itu tidak ada. Memang sangat buruk niat yang terkahir yakni menunggu tidak adanya sekat, tapi itulah yang kudambakan saat ini.

Kembali pada persoalan bahwa diri ini sedikit kesal dan kecewa ketika kau kembali mengingatkan hal-hal yang sudah hampir tak tercium sama sekali dan sudah lepas dari pandangan, dirimu seakan mengacuhkan apa yang sudah ku jabarkan panjang lebar lewat tulisan-tulisan yang memang tak terlalu penting untukmu, yang diri ini sendiri tak tahu apa yang kau lakukan setelah meminta menulis sesuatu tentang dirimu. Diri ini kecewa tentang perkataanmu yang mengingatkan kebangsatan yang tak pantas kembali diperbincangkan. Kenapa diri ini bisa kecewa dan kesal mendengar kau mengingatkan kembali? Sudah sangat jelas jawabannya jika kau lebih teliti dengan orang dihadapanmu, kau adalah tujuan dari semua yang kulakukan saat ini, maka untuk apa kau kembali memaksa untuk memunculkan kebangsatan yang sudah lalu itu, karena sejatinya saat ini yang patut diperbincangkan hanyalah aku, kau dan sekat yang menurut keegoisanku harus hilang.

Barat Jakarta, 28 Juni 2015

Jumat, 19 Juni 2015

Coretan Dini Hari - Istimewa

Istimewa
Oleh Ahmad Zaelani

Pada tulisan sebelumnya aku telah menjelaskan bagaimana harapanku terhadap dirinya yang memiliki garis keindahan 10 detik. Tentang apa yang sedang aku lakukan dan mengapa aku melakukan itu semua. Namun semua itu tentunya memiliki alasan tersendiri. Dan alasan tersebut adalah karena bentuk keistimewaan yang dimiliki oleh dirinya yang mungkin hanya diri ini yang dapat merasakan, walaupun apa yang diri ini rasakan tidak sepenuhnya dapat ku rasakan dengan leluasa karena adanya sekat, aah bangsat!! Lagi-lagi sekat! Persetan dengan sekat itu, sudahlah bung, fokus.

Maaf saudara sekalian, aku jadi tidak fokus karena sekat itu. Baiklah kali ini aku akan coba gambarkan bagaimana keistimewaannya sehingga dapat memberikan alasan mengapa aku harus menunggu.

Sejatinya memang sudah lama diri ini merasakan keistimewaan darinya, bahkan dirinya pun sudah merasakan hal yang sama, hanya saja semua tidak berjalan dengan baik karena diri ini memiliki sekat waktu itu, dan dirinya belum, hingga saat ini semua berjalan terbalik, dan keistimewaan semakin terasa. Satu yang paling istimewa adalah garis yang hadir setelah 10 detik dari wajahnya yang sangat menggemaskan. Sebelumnya garis itu tidak terlihat nyata, dan ia berpikir bahwa mungkin hanya guyonan semata dan tidak memiliki arti, hingga akhirnya aku menjelaskan alasan dan kulakukan terus menerus untuk membuatnya yakin bahwa yang ia pikir sebagai guyonan adalah kenyataan yang sebenarnya serius dan datang bukan dari pikiran tapi dari hati.

Saat ini garis yang ku katakana 10 detik itu benar-benar terasa bahkan ketika garis itu menghilang, aku sungguh mencarinya kemana garis itu pergi, dan tanpa ku sadari, hal yang sama pun terjadi pada dirinya. Suatu ketika aku tidak sengaja tidak mengeluarkan “guyonan nyata” pada dirinya dan kemudian ternyata ia berkicau bahwa ia mencari dan menunggu garis yang dikatakannya guyonan itu. Entah apa yang membuat dirinya seperti ini, diri ini semakin bingung dengan kenyataan. Namun itulah yang membuat diri ini semakin percaya diri untuk menunggu hancurnya sekat di ruang ini.

Ahh goblok, sekat lagi, sekat lagi!!

Mungkin sejak tadi aku hanya menceritakan tentang garis, garis dan garis, lalu dimana keistimewan lainnya?

Dalam diri seorang wanita tentu tidak terlepas dari kesan feminis, dan dalam dirinya kesan feminis itu mampu hadir dan diimbangi dengan ketidakberlebihan seorang wanita, terkadang ia terlihat anggun dan terkadang tidak, tapi hebatnya ia bisa mengimbangi keduanya dan tetap terlihat sebagai dirinya yang energic dan menawan. Ahh iya dan yang membuat diri ini semakin terpikat adalah ketika ia meneteskan air matanya dihadapanku dan mampu tersenyum kembali entah itu karenaku atau bukan yang jelas itu adalah keistimewaan tersendiri dibalik sosok yang energic ia mengaku bahwa dirinya adalah gadis yang cengeng. Sebelumnya aku tak percaya bahwa ia sangat mudah meneteskan air mata, hingga sampai suatu ketika selama satu jam ia meneteskan air matanya di balik kaca helm, itu membuatku sedikit kaget, segitu besarnya salahku hingga aku diberikan air mata yang begitu deras selama satu jam. Aku hanya bisa mengobati hal tersebut dengan cara tertawa. Dasar bodoh kenapa ditertawakan? Ya begitulah aku belum terlalu mengerti bagaimana caranya menghapus tetesan itu dengan tepat. Mungkin inilah kelemahanku, dan diriku perlu waktu untuk mempelajari itu.

Saat ini waktu tengah menunjukkan pukul 4 pagi, dan aku masih sulit merangkai kata bagaimana menggambarkan betapa istimewa dirinya. Ia mampu hadir di tengah kekosongan hingga akhirnya diri ini masuk ke dalam ruang yang terdapat sekat. Ahh tai sekat lagi sekat lagi.

Mungkin yang dapat mewakilkan betapa istimewanya adalah ketika jemari ini mengetik sebuah pesan maka diri ini mengeluarkan senyum yang tidak bisa ditutupi, lalu ketika diri ini menatap wajahnya seakan tak bisa begitu saja melepaskan pandangan dari matanya sebelum garis itu hadir melelehkan tatapan, kemudian ketika berada bersama mulut ini tak dapat berkata seperti apa yang telah direncanakan sehingga seketika keduanya berdiam dan bingung ingin berkata apa hingga akhirnya keduanya berpisah dan baru sadar kenapa aku tidak berbicara seperti ini, dan yang paling terlihat bahwa ia istimewa adalah ketika diri ini memutuskan untuk menunggu sampai waktu itu tiba.
Dan mungkin hanya sedikit keistimewaan yang ku coret-coret disini, tapi sungguh sejatinya keistimewaan itu sangat luar biasa terasa terutama yang tidak bisa ku jabarkan disini.


Bangun Nusa, 20 Juni 2015

Coretan Penting Tengah Malam - Kenapa Menunggu?

Kenapa Menunggu?
Oleh Ahmad Zaelani

Sekarang adalah hari ini ditemani oleh kenyataan dan esok adalah harapan yang mungkin diselimuti oleh kekecewaan seperti hari yang lalu yang mana kekecewaan masih membayangi. Mungkin kalimat itu yang akan mengantarkan tulisan ini menuju titik fokus pada harapan yang entah akan terwujud kapan. Harapan itu sebenarnya ada di dalam sebuah lingkaran yang tak terputus, namun kadang ukuran lingkaran itu kecil bahkan besar. Kita tahu bahwa lingkaran tidaklah memiliki sisi, namun sepertinya hal tersebut ditolak dalam cerita ini. Lingkaran yang tak terputus itu nyatanya memiliki sisi, kadang aku di timur ia di barat, kadang aku di utara ia di selatan begitu pun sebaliknya, ia jarang sekali menyatukan lututnya dengan lututku bahkan hal tersebut bisa dibilang tak pernah. Tapi tak apa, dengan ia selalu ada di sisi lain dariku maka aku dengan leluasa menatap keindahan yang diberikan Tuhan kepada manusia walaupun keindahan tersebut sudah dimiliki manusia lainnya.

Oh iya aku sampai lupa bahwa yang ku maksud 'ia' adalah dirinya yang merespon garis 10 detik. Di awal aku katakan bahwa aku bisa menatap keindahan yang diberikan Tuhan kepada manusia, mungkin saat ini hanya diriku saja yang merasakan keindahan tersebut, atau hanya aku saja yang merasa terlalu percaya diri dengan menyebut bahwa itu adalah keindahan yang diberikan khusus untukku. Entahlah, memang benar apa kata orang di luar sana bahwa harapan harus sejalan dengan realitas, tapi menurutku tidak selalu seperti itu. Jika berbicara harapan harus sejalan dengan realita maka akan sia-sia apa yang aku lakukan saat ini.

Saat ini aku dan dirinya sedang berada dalam ruang yang sama, namun sayang dalam ruangan ini terdapat sekat yang cukup mengganggu. Oh tunggu maksudku mengganggu hanya untuk diriku bukan dirinya. Dalam ruang ini mungkin aku yang salah karena berani masuk tanpa berpikir panjang, tapi itu orang lain yang berkata bahwa aku tidak berpikir panjang, aku memutuskan untuk masuk ke ruang ini, masuk ke dalam ruang yang di dalamnya ada dirinya ditemani keindahan garis 10 detik sudah berpikir lebih lama bahkan… ah sudahlah tak perlu diungkit masa lalu yang penuh kekecewaan. Ingat apa yang aku katakana di atas bahwa hari ini adalah kenyataan dan masa lalu adalah kekecewaan.

Mengapa aku begitu bodoh melakukan hal ini? Masuk ke dalam ruang yang di dalamnya ada dirinya yang akhirnya ia pun mencoba menutup dirinya dengan sekat itu? Dasar tolol, itu sudah menjadi risiko, tak perlu disesali, ingat tujuan, ingat pertama kali dirimu ini memutuskan bahwa dia sebagai pemilik garis 10 detik adalah orang yang terakhir menjadi “teman”. Bukankah kamu sendiri yang sudah memantapkan niat untuk menunggu??

Aaaahhh… pemikiran macam apa itu? Aku heran apakah pikiran itu bisa dikatakan penyemangat untuk diri ini terus menunggu. Iya mungkin iya, aku memang sudah berniat untuk menunggu, tapi bukan berarti aku harus merusak sekat, tidak, aku tidak akan merusak sekat di ruangan ini, hanya saja aku ingin sekali mendobrak sekat ini agar keindahan 10 detik akan terlihat dengan sangat jelas dan bahkan tidak hanya 10 detik tapi sepanjang waktu.

Apa yang baru saja ku katakan adalah harapan, harapan untuk menjadikan dirinya teman terakhir sampai diri ini tak bisa menatap indahnya matahari terbenam dari jalan layang yang menjadi titik kesukaanku di kota ini.

Tapi apakah diri ini terlalu egois jika harus memaksakan kehendak tentang dirinya?
Sudahlah… hanya waktu yang bisa menjadi teman dirimu dalam menunggu sebuah keajaiban. Harapan tetap harapan walaupun nyatanya apa yang diri ini harapkan tidak sesuai dengan realita dan terlalu percaya diri.

Terima kasih garis keindahan 10 detik!

Bangun Nusa - 20 Juni 2015

Coretan Tolol - Sudah Cukup

SUDAH CUKUP
Anonymous


Aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan Tia sebulan yang lalu, sangat sulit kenyataan ini ku terima sebab perasaan yang begitu dalam yang ku simpan dan ku jaga selama tiga tahun ini sangatlah kuat bahkan diri ini yakin bahwa kekuatan kasih cinta dan sayang ini tidak akan ada yang bisa menghancurkan. Mengingat hubungan yang berjalan sangat dramatis dan melankolis ini memang selalu membawa senyum tersendiri jika suatu ketika teringat dalam bayangan. Namun apa daya harapan akan kekuatan cinta ini tidak dapat bertahan jika yang memperjuangkannya hanyalah diri ini seorang. Sore itu ia meminta untuk mengakhiri semua ini, saat aku sedang sibuk akan tanggung jawab yang memang benar tidak bisa dilepaskan begitu saja. Diri ini berusaha sabar akan keputusan tersebut dan menganggap bahwa itu adalah kejenuhan seorang wanita semata yang nantinya akan kembali pada titik normal seperti sedia kala, karena disisi lain pula diri ini yakin akan dirinya. Hingga pada dua hari berlalu setelah kepenatan dan tanggung jawab akan pekerjaan berkurang sedikit, aku mulai berpikir tentang apa yang terjadi dan mengapa bisa sampai terjadi.

Malam itu pukul sebelas malam aku menyendiri di atas rumput hijau di temani cahaya rembulan yang terhalang oleh dahan pohon ditaman kampus. Aku teringat dengan apa yang baru saja terjadi dengan hubunganku ini. Mengapa bisa terjadi? Mengapa tiba-tiba ia menghilang dan memutuskan untuk mengakhiri? Aku periksa ponselku yang memang selalu tidak ada signal dikala aku berada di kampus. Aku mencari dan terus mencari batang demi batang signal yang ku harapkan akan membuahkan sesuatu. Yaa beberapa menit aku mendapatkan signal, seketika diri ini mencari namanya dan berusaha menghubunginya hingga tak sadar sudah puluhan kali ponsel ini menghubunginya namun taka da jawaban apapun darinya. Aku putuskan untuk segera pulang dan mencoba menghubunginya lagi di rumah.

Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, aku sampai pada kamar yang mengisahkan segalanya tentang dia dan tentang hubungan percintaan yang terjadi selama 3 tahun ini. Ku bergegas meraih ponsel dan terus menghubunginya tetap tidak ada jawaban baik darinya hingga ada dering pesan yang berisi bahwa ia tidak ingin ditelfon. Kekuatan kasih sayang dan cinta memang tidak pernah membohongi orang yang mengidapnya, perlahan tetesan air dari kelopak mata jatuh ke lantai secara perlahan dan bibir ini gemetar melihat dinding yang mengisahkan perjalanan semuanya.

BANGSAT! Untuk apa menulis seperti ini? Berharap akan ada perubahan dari hubungan yang sudah tak bernyawa? Masih mengharapkan ia akan kembali dengan tangisan kemudian memelukmu seperti pada waktu pertama ketika diri ini memutuskan hubungan? Jangan berharap terlalu tinggi! Ini bukan hanya soal kasih sayang dan cinta semata, tapi ini soal materi, ini soal persetujuan yang tak mungkin menyatu antara kalian? Sadarlah bahwa dirimu ini sudah dibuang ketika kamu menghampirinya pukul satu malam dan meneteskan air mata di depannya, sungguh perbuatan bodoh yang dilakukan seorang pria, menjatuhkan harga diri demi berjuang akan cinta kasih, perjuangan yang sia-sia ketika kamu menganggap ini soal kasih sayang semata. TIDAK!

Sadarlah bahwa, sudah cukup kau berjuang dalam kemacetan untuk menjemputnya, sudah cukup kau mendapat kemarahan akibat ia menunggu satu jam kedatanganmu untuk menjemputnya? sudah cukup kau merelakan absensi untuk bisa bertemu dengannya, sudah cukup kau tidak makan hanya demi mengumpulkan uang agar bisa mengajaknya pergi ke tempat yang sebenarnya tidak kau suka, sudah cukup kau mendengar cerita dari mulutnya mengenai barang-barang mewah yang ia inginkan, sudah cukup kau berbohong pada temanmu untuk tidak latihan hanya demi bertemu dengannya, sudah cukup kau mencari signal untuk menghubunginya di kampus yang selalu dianggapnya hutan, sudah cukup kau dibilang tukang ojek ketika ia ditelpon oleh orang tuanya, dan mungkin yang terakhir sudah cukup kau dikatakan tidak merindukan dirinya yang jelas-jelas selalu kau pikirkan setiap kali kau melangkah pergi.
Saat ini ia sudah mandiri, ia sudah tak memerlukan tukang ojek, ia sudah menemukan teman yang bisa mendengarkan ceritanya tentang barang-barang mewah yang diinginkannya, ia sudah bisa bepergian kemana pun tanpa harus menggunakan masker dan jaket, ia sudah bebas untuk tidak menunggu selama satu jam demi orang yang tidak penting, dan mungkin yang terakhir ia sudah terbebas dari segala ikatan yang selama ini kau genggam erat.

Selamat tinggal!


Ditulis pada 6/8/15

Minggu, 18 Januari 2015

Cerita dari Pikiran Buntu Tengah Malam - SARAH, Nyonya yang Kelelahan

SARAH, Nyonya Yang Kelelahan
Sebuah perjalanan pastinya akan ada titik dimana perjalanan itu telah selesai, bisa kita analogikan dengan sebuah track lari, jika kita start di kilometer nol maka nantinya kita akan finish di kilometer selanjutnya. Semua itu pasti ada akhirnya, dan untuk menuju akhiran tersebut setiap orang jelas berbeda-beda menggunakan cara yang mereka inginkan. Mungkin saja ada orang yang menjalankannya dengan cepat tanpa halangan atau bahkan sebaliknya, atau bisa pula ada yang berhenti di tengah perjalanan menuju garis finish karena mungkin rasa lelah telah menyelimutinya. Dan untuk akhir dari perjalanan itu sendiri setiap orang jelas memiliki motivasi untuk mengakhiri perjalanannya bagaimana, ada yang bahagia karena memang dlam perjalanananya tidak terlalu mengalami kendala, tapi ada pula yang ditengah perjalanan mengalami kendala namun di akhir ia sangat bahagia dengan apa yabg diperolehnya.

Tapi sudahlah, sudah cukup sesi pembukaan di atas, tak perlu kuberikan penjelasan dan analogi berpanjang lebar seperti novel.

Berbicara tentang lelah, setiap orang pasti merasakan kelelahan di setiap perbuatan yang menurutnya sabgat menguras tenaga. Aku sendiri pun pernah merasakan kelelahan yang teramat sangat, namun jelas konteks nya berbeda dengan berolahraga. Aku merasa lelah, lelah sekali dengan apa yang ku lakukan, bahkan sempat berpikir, untuk apa ku lakukan hal seperti ini, aku mengejar-ngejar hal dan berharap akan sebuah perubahan namun nyatanya sampai detik ini pun perubahan itu tak kunjung terlihat sedikit pun. Ini adalah ceritaku sewaktu bersama (sebut saja Sarah). Sarah adalah gadis yang benar-benar ku dambakan hingga tak ingin sedikitpun aku lewatkan kesempatan bersamanya. Aku dan dia berhubungan cukup lama bahkan hingga timbul pertanyaan untuk apa harus selama itu?.

Setiap kali ada kesempatan untuk bertemu, aku akan coba usahakan semampuku, walaupun aku sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi aku pikir bahwa kesempatan bertemu sepertinya lebih penting dari pada pekerjaan-pekerjaanku. Jika dirasakan, tubuh ini sangatlah lelah, melakukan hal tersebut berulangkali melihat jarak yang tidak bisa dikatakan dekat. Hubunganku dengan Sarah sama sekali tidak ada perubahan dari awal hingga sekarang mengenai orang tua, malah sepertinya kebencian orang tua justru semakin bertambah tingkatannya. Aku terus berharap semua ini akan berubah dan berjalan lebih indah hingga bisa ku tunjukan kebahagiaan itu pada semua orang. Tapi mungkin itu hanya khayalan yang tak akan terjadi.

Aku merasa lelah dengan penantian, aku merasa lelah dengan apa yang kulakukan setiap kali bertemu tanpa ada apresiasi istimewa ketika berpisah, aku lelah bersembunyi di balik pagar atau di balik mobil, dan aku pun terkadang lelah menuruti kemauannya yang mungkin bagiku sangat sulit, aku lelah dipermalukannya di tempat umum dengan caranya yang seperti memegang kendali kendaraan, aku lelah berharap padanya tentang sesuatu yang kuharapkan namun ia tidak pernah mengharapkan, dan aku pun lelah bertindak cepat dan sigap ketika ia tak tau aku sudah berusaha cepat. Banyak kelelahan yang ku rasakan jika semua kelalahan itu ku ungkapkan kepadanya, namun itu sepertinya tidak adil, tak pantas aku mengatakan lelah dihadapan orang yang ku idam-idamkan itu.

Aku pun meminta satu hal kepadanya agar aku merasa rasa lelahku ini hilang dan bisa terlupakan sehingga aku taj perlu merakan kelelahan ini dan itu. Memang, mungkin permintaan itu sejak awal salah, dan mungkin ia sangat tidak suka. Namun menurutku ini berbeda, aku berusaha agar ia bisa melakukannya, aku arahkan dan ku berikan caranya. Namun ternyata ia tak mau. Hati kecilku ini merasa kecewa dengan sikapnya. Namun tak apa, itu sudah biasa, aku seakan terbiasa dengan penolakan terhadap permintaanku. Entah mengapa walau sesungguhnya hati ini merasa benar-benar sedih ketika ia menolaknya.

Aku mencoba melupakan kekecewaan itu dengan berdiam diri, aku mencoba berpikir apa yang harus aku lakukan agar semua ini tidak terulang. Agar semua kembali seperti sedia kala. Namun ia berpikir lain, ia merasa lelah, ia bahkan mengungkapkannya, dan aku yakin bahwa kali ini ia benar-benar lelah. Mungkin memang permintaanku konyol, tapi ku rasa itu bisa ia lakukan jika ia mau mencobanya.
Ia mengungkapkan kelelahannya itu seperti lelah yang sudah pada tingkat tertinggi. Ya mungkin memang aku yang salah, aku salah membuatnya lelah, aku salah tidak menuruti apa yang ia mau.


Perjalanan pun terputus di tengah track, mereka berdua berdiam tanpa saling sapa, terus begitu hingga waktu yabg tak dapat ditentukan. Entahlah perjalananini harus berkahir di garis finish dengan perasaan yang gembira atau sebaliknya.


Cerita di atas adalah tentang tokoh Tuan dan Nyonya (sebut saja Sarah)

Kamis, 11 Desember 2014

Coretan Tengah Malam - TUAN DAN NYONYA

TUAN DAN NYONYA

Hari ini 11 Desember 2014, nampaknya terlihat jelas bahwa perubahan dari Tuan dan Nyonya sudah sangat riskan untuk mengalami perpecahan yang cukup serius. Tiga tahun yang lalu, semua tak seperti hari ini, keduanya tak pernah mengeluarkan emosi secara bersamaan, berbeda dengan hari ini ketika si Tuan mengungkapkan rasa kecewanya dengan emosi yang hampir saja meladak namun masih terkontrol, ternyata dibalas pula oleh si Nyonya dengan emosi yang lebih besar.

Siang ini nampak sangat terik, namun tak bisa dipungkiri bahwa semangat si Tuan ini tak ada yang bisa membendungnya, semangat untuk bertemu dengan Nyonya yang memiliki mahkota indah di kepalanya, semangat yang ia rasakan sejak dulu atas kerinduannya terhadap si Nyonya. Tepat pukul 12 siang, si Tuan keluar dari ruangan, namun ia ingat sesuatu sebelum ia meluncur dengan kuda besinya menemui si Nyonya. Si Tuan ingat bahwa hari ini ia harus mengurus berkas untuk mendapatkan tanda tangan dari orang-orang penting untuk keperluannya di masa depan mengenai kesempatan yang semua orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya (RED:Beasiswa).

Jarum jam terus berjalan sesuai iramanya, sementara untuk mengurus berkas-berkas ini tak bisa dengan waktu yang singkat. Ia kemudian mencari bantuan kepada salah satu orang yang ia kenal untuk menitipkan berkas-berkas tersebut. Tak enak hati memang ketika semua itu adalah untuk dirinya sendiri sementara yang mengurus adalah orang lain. Ucapan terima kasih yang tulus ia berikan kepada orang yang telah mau membantunya.

Jam di ponselnya kini sudah menunjukkan pukul 12:20, ini saatnya si Tuan harus bergegas menuju kuda besinya untuk menemui sang Nyonya, memang perjanjian tadi malam, ia harus berangkat pukul 12:30, namun tak ada salahnya jika ia datang lebih dulu. Yaa.. mungkin ini karena semangat untuk bertemu sudah sangat melonjak-lonjak sehingga makan siang pun tak luput dilupakannya, menurutnya akan lebih indah jika ia bisa makan siang bersamaan dengan si Nyonya dengan tatapan manis si Nyonya, dengan senyuman si Nyonya yang tak bisa dilupakan itu membuat ia semakin semangat menuju lokasi yang telah disepakati.

Entah mengapa, dalam perjalanan kuda besi yang ia tumpangi serasa berlari sangat cepat tak seperti biasanya. Dalam benaknya selalu terngiang sosok si Nyonya yang selalu ia dambakan itu, sosok yang sulit untuk dilupakan atau bahkan tak akan bisa dilupakan. Di tengah perjalanan, Tuan menepi ke sebuah pengisian bahan bakar untuk buang air kecil dan sekaligus mengganti baju, maklum yang akan ia temui nanti adalah seorang wanita yang selalu diidam-idamkannya. Tak lama ia berganti dan rapi dengan segalanya, ia lantas mengecek ponsel untuk mengabarkan keberadaan si Nyonya yang tadi malam ia akan menunggu di lokasi yang sudah ditentukan. Namun ternyata, semua salah, terjadi perubahan nampaknya dalam perjanjian yang sudah disepakati tadi malam. Baiklah bisa dimaklumi walaupun kekecewaan terus menyelimuti hati si Tuan, lantas keduanya menyusun rencana ulang namun dengan sedikit emosi, Tuan nampaknya tak bisa menyembunyikan emosinya atas perubahan rencana yang dilakukan si Nyonya. Tapi itu bisa diterima sebab Nyonya menjelaskan semuanya dengan baik walau pun ada rasa emosi juga yang muncul.

Rencana kedua pun berjalan, si Tuan terus menunggu kabar menggembirakan dari si Nyonya, namun ternyata dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang, dan Nyonya pun mengabarkan bahwa ada sedikit kendala, sedikit hambatan, sebuah antrean yang membuat si Tuan semakin emosi dibuatnya. Pertemuan ini semakin tidak efektif nampaknya jika dilanjutkan sebab waktu telah berbicara tentang keadaan yang ada, perjanjiannya adalah pukul 3 siang mereka harus sudah duduk manis dengan dihadapkannya sebuah layar lebar yang sedang memutarkan sebuah tayangan film (RED: Bioskop).

Si Tuan semakin emosi dengan keadaan yang ada, ia pun memutuskan untuk membatalkan pertemuan ini karena dikiranya bahwa akan berantakan jika pertemuan langka ini tetap diteruskan. Namun semua itu sangat disayangkan ketika si Nyonya membalas pernyataan si Tuan dengan emosi yang meledak juga. Emosi bertemu dengan emosi, maka tak aka nada yang padam. Pertengkaran pun muncul, si Tuan berharap bahwa apa yang ia lakukan hari ini bisa dihargai oleh si Nyonya, sebab tak mudah bagi si Tuan untuk meluncur dari ujung Timur ke ujung Barat, bahkan melebihi ujung barat. Kerinduan yang dirsakan keduanya seakan luntur, seakan sudah tak dirasakannya lagi. Namun harapan si Tuan adalah ketika dirinya emosi tolong jangan dibalas dengan emosi pula, mungkin si nyonya lupa akan hal itu, lupa bahwa sejak tiga tahun yang lalu si Tuan sangat tidak suka bahkan kecewa jika ia sedang emosi namun dibalas dengan emosi pula. Si Tuan pun heran dengan apa yang terjadi pada si Nyonya yang sudah tiga tahun bersamanya ini, si Nyonya seakan berubah, berubah dari yang tadinya lembut dan penurut menjadi emosional. Nyonya yang dulu sangat manja dan lembut sekarang menjadi keras kepala dengan tuntutan-tuntutan yang selalu ingin diwujudkannya itu. Entahlah mungkin pergaulan yang membuatnya seperti itu, mungkin juga karena jarangnya terjadi pertemuan antara si Nyonya dan Tuan seperti tiga tahun yang lalu.

Tuan semakin merindu, tuan semakin rindu akan sosok Nyonya pada tiga tahun yang lalu, yang selalu menyejukkan hatinya. Bukan sosok Nyonya yang sekarang. Hari ini Tuan tetap berharap kepada Nyonya akan kelembutan hatinya yang dulu. Ia berharap bahwa api jangan dibalas dengan api pula sebab jika itu terus terjadi maka kobaran api akan semakin besar, dan kobaran tersebut akan menghancurkan segalanya.

Barat Jakarta, Desember 2014

Rabu, 12 November 2014

Coretan Tengah Malam - Anak Awan yang Tenggelam

Anak Awan yang Tenggelam
Oleh Ahmad Zaelani


Malam kembali hadir bersama orang-orang yang terus bahagia akan datangnya gemerlap cahaya lampu yang menyinari sudut-sudut ruang. suara angin yang menampar daun ikut menemani malam yang seiring berjalannya waktu kian berubah menjadi dingin yang dapat menusuk tulang rusuk. Atau bahkan malam akan berubah menjadi beku, termasuk orang-orang disekitarnya ikut meramaikan malam.

Lihatlah, sekelompok orang datang dengan raut wajah yang berbeda-beda, ada yang senyum ceria yang menggambarkan kenyamanan dimana ia berada. Tapi ada salah satu orang yang entah mengapa raut wajahnya berbeda, tidak ceria, tidak tertawa bersama yang lain, seolah ingin memisahkan diri dari tempat ia berada. Ia berjalan pelan, dengan kepala dan pandangan tertunduk, kepalanya seakan sadang menahan benda berat diatas kepalanya.

Tunggu dulu...


Mengapa ia seperti itu? Bukankah ia adalah orang yang paling bersemangat di tiap harinya?

Dirinya seolah mengikuti suasana awan yang gelap namun enggan meneteskan tetesan-tetesan kerinduan. Pandangannya seperti kosong, tapi dari raut wajahnya terlihat ada sesuatu yang sedang ia pikirkan begitu dalam.

Baiklah tuan, mari kita amati orang yang sedang mengikuti kondisi awan.
Sampailah mereka di tempat yang berbeda dari biasanya. Tempat yang tidak seharusnya sekelompok orang ini berada.

Memang kali ini tempatnya bagus, terang, dan bersih, serta ada dinding kaca yang memantulkan apa yang kita lakukan.

Seorang bertubuh besar kemudian menghampirinya, ya dia adalah tetua di kelompok itu. Tampak si tetua cukup panik dengan keadaan yang ada dan mencoba menjelaskannya pada si orang itu. Tak lain dan tak bukan, si tetua ternyata memberikan amanah pada anak awan ini (Red: orang yang menundukan kepala mengikuti kondisi awan).
Sang anak awan segera melaksanakan apa yang diinginkan si tetua. Dengan awak yang tak begitu besar seperti tetua, ia berusaha menjalankan amanah yang diberikan dengan keyakinan dan harapan yang besar. Tepukan tangan sekali dua kali hingga tiga kali dibunyikan olehnya untuk mengkondisikan segala sesuatunya.


TAK ADA RESPON . . .
Tak ada jawaban 'iya',
Tak ada jawaban 'oke',
Tak ada jawaban 'siap',
Yang ada hanyalah keacuhan dari mereka kepada si anak awan.
Sekali dua kali hingga tiga kali ia lakukan seperti itu,

Tapi . . .
Jawabannya sama!


Baiklah mungkin ini memang yang pantas didapatkan oleh si anak awan karena tak memiliki sesuatu hal yag spesial, dan memang tak ada yang dapat dibanggakan dari dirinya, ia adalah orang yang tiap hari mengikuti kondisi alam dan menikmati apa yang sedang terjadi tanpa memprotes ketidaknyamanan yang dialami.

Suaranya kian mengecil, redup bahkan tenggelam oleh ocehan orang-orang busuk yang tak mendengar tepukan dan teriakan halusnya. Ia berusaha lagi dan lagi, namun ...
Hatinya merasa lelah dengan kondisi seperti ini, hingga ada satu pionir yang bersuara kemudian barulah mereka mendengarkan dan mengikuti ocehan orang itu, bukan si anak awan.

Baiklah tuan dan puan sekalian, sudah bisa kita terka mengapa si anak awan ini terus menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan menuju tempat berdinding kaca yang berpantul. Hatinya tak sanggup akan kondisi ini, suaranya kian tenggelam tanpa ada sambutan hangat dari orang-orang busuk di dalamnya. Ia merasa tak ada arti sedikitpun kata-kata yang ia keluarkan. Perkataannya tenggelam atau bahkan sengaja ditenggelamkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Dan ya satu lagi, satu hal mengapa ia terus menundukkan kepalanya mengikuti kondisi alam, memang benar ia menundukkan kepalanya karena suara kecilnya kian tenggelam, tapi coba lihat, ada yang janggal dari kelompok ini.

Lihatlah ini tak lengkap, ada yang kosong, tak ada garis senyum semangat disini.
Ah sudahlah tuan, sudah kiranya terjawab mengapa si anak awan mengikuti awan gelap dan angin dingin di malam yang gemerlap. Dua hal, ya dua hal yang menenggelamkan ia di dasar kebusukan.


Jakarta, 12 Novemer 2014
@ajhezae

Selasa, 11 November 2014

Coretan Tengah Malam - Pesan yang Membingungkan

Pesan yang Membingungkan
Oleh Ahmad Zaelani



Malam ini, setelah diriku sampai di rumah dengan tubuh yang letih, aku coba kuatkan diri dan mataku untuk mengambil sebuah buku tugas yang masih menumpuk diatas meja.

Dengan tubuh yang masih diaelimuti angin malam yang dingin, ku kuatkan tekad untuk mencoba memulai menulis apa yang harus ku tulis dalam buku tugas. Tapi tak berselang lama, mata ini serasa akan menutup gerbang keindahan dunia secara perlahan.

Apa yang terjadi???

Maaf tuan, diriku benar-benar terlelap sejenak, tapi ada satu pertanyaan penting, mengapa aku bisa terbangun padahal aku terlelap begitu saja sebelumnya.

Perlahan ku sadarkan diri dan ku sandarkan diriku di tembok ruangan yang lusuh ini. Aku penasaran mengapa diriku tertidur kemudian terjaga secara mengejutkan.
Ku coba mengecek ponsel ku, dan .....

Ooh tuhan, ada bgtu banyak pesan dan jutaan pertanyaan yang dikirimkan oleh seorang gadis.
Ya gadis yang mungkin datang ke tempat ini untuk memvaca tulisan ini, entah mengapa ia terus membaca tulisan ini dan bahkan sampai selesai.

Aneh...


Tapi, mengapa ia mengirimkan pesan dengan pertanyaan yang begitu banyak kepadaku? Apakah itu penting?

Ku baca pesan demi pesan, pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan dari gadis itu, ku baca perlahan dan terus ku pahami apa maksud dari gadi itu, pertanyaan yang membingungkan menurutku.

Ku balas dengan sigap, karena aku pun buh kejelasan tentang hal itu semua.
Dan ternyata, hahahahahahahahahahahhh
Gadis yang lucu, ia menganggap bahwa apa yang kubicarakan disini adalah sebuah..........

Sudahlah.
Mari kita akhiri saja malam ini dengan kesalahpahaman dan ketidaktahuan akan cerita.


Jakarta, 11 November 2014

Minggu, 09 November 2014

Coretan Pagi di Rawamangun

Sini Pindah ke Sampingku
Oleh Ahmad Zaelani


Pagi itu di akhir pekan ketika orang lain sudah bersantai di rumah berkumpul dengan keluarganya, aku harus sudah terjaga di pagi hari.

Hei bodoh untuk apa kau bersiap diri di akhir pekan?

Bisikan itu kerap kali berkeliaran dipikiranku ketika aku harus datang ke sebuah acara di akhir pekan yang sejatinya digunakan untuk bersantai.

Dengan penuh keyakinan aku terua bersiap dengan memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan. Pilihankan jatuh pada kemeja batik lengan pendek, yang sepertinya memang sangat pas dikenakan.

Dalam perjalanan pikiranku hanya pada acara yang akdan ku hadiri ini, mengingat ini adalah acara temanku sendiri. Tak ada salahnya jika ku merajinkan diriku untuk bergegas keluar ke sebuah acara di akhir pekan, toh acaranya juga bermanfaat.

Sampai di lokasi...

Sepi, parkiran yang biasanya dipenuhi kuda besi pun terlihat longgar, tak sepadat hari biasanya. Andai setiap hari bisa seperti ini...

Ahh mustahil, sudahlah. Sudah telat ayo bergegas nak ....

Nampaknya pikiran malaikat terus menyemangati batin ini.

Saat ku berjalan, ku lihat seorang gadis yang tak asing bagiku. Dia adalah ....
Yaa dia adalah sahabat gadis yang pernah membaca di tempat ini (RED: Coretan Pikiran). Tapi mengapa dia ada disini? Dan mengapa sendiri??

Aah sudahlah mengapa harus dipersoalkan.

Aku duduk bersebelahan di acara yang sama dengannya, tak ada yang istimewa dari kami. Ku ikuti rangkaian demi rangkaian acara yang ada, hingga di tengah-tengah acara...

"Ehhh..."

Ada tepukan mendarat di pundakku dari belakang. dan ternyata itu dia, ya dia, iyaa kamu. Kamu yang mungkin nanti baca ini.

Dia masih duduk di belakangku hingga waktu yang cukup lama, aku pun berpikir bagaimana caranya agar dia bisa duduk di sebelahku.

Hmmmm ...


Aku masih mencari-cari cara...


Terus seperti itu hingga akhirnya, ia berkata..

"Awas dong ga keliatan!"

Huppp!!

Tuhan memang selalu memberi jalan bagi orang yang berusaha rupanya, termasuk aku yang sedari tadi berusaha memikirkan bagaimana cara agar dia bisa di sampingku.
Aku pun membalas perkataannya...

"Makanya disini (menunjuk bangku kosong di sebelah kiriku) biar bisa terlihat jelas"
Aku berharap ada keajaiban dari perkataanku tadi, dan ternyata ....
Ia benar-benar pindah tempat duduk jadi tepat di sebalah kiriku. Melihat garis senyumnya membuat acara yang kuhadiri semakin luar biasa.


Rawamangun, 8 November 2014

Coretan Malam - Pesan Yang Bergantung

Pesan yang Bergantung
Oleh Ahmad Zaelani


Suatu malam ketika ku sampai di dalam ruanganku yang tak terurus, ponselku berdering, bukan karena ada yang menelpon, tp suara pesan masuk tiba-tiba mengejutkanku.
Aku sedang lelah saat itu, dan diriku berpikir bahwa pesan itu mungkin dari orang yang biasa berbalas pesan denganku, maka dari itu sejenak aku letakkan ponsel di atas meja tanpa peduli siapa yang mengirim dan apa isi pesannya.

Air dalam kamar mandi begitu menyejukan, bagai air terjun yang jatuh dari ketinggian yang begitu menjulang. Tubuh ini serasa habis berjalan di padang pasir yang tak bertemu sejuknya air sedikitpun.

Rasa lelah sedikit berkurang setalah ku guyur tubuhku ...
Seketika ku duduk di kursi kerjaku sambil mengusap rambut dengan handuk, tiba-tiba aku teringat ponselku yang berdering tadi. Ku tengoklah secara perlahan dan ...


Mengapa???
Ya mengapa???
Ada apaa???

Itu adalah pertanyaan yang muncul ketika ku baca sebuah pesan singkat yang ternyata itu adalah dari...

Ah sudahlah, mungkin ini hanya pesan biasa yang sewajarnya ditanyakan kepadaku.

Tapii...

Mengapa nurani ini berkata beda?
Seperti ada tujuan lain dibalik pesan yang disampaikan itu.

Ya sudah, ku balas saja apa adanya pesan dari orang yang mungkin membaca tulisan ini ...
Jarum jam menunjukkan pukul 12 malam lewat, tanda hari sudah berganti. Dan pesanku ini bergantung ditengah-tengah obrolan manis tentang dirinya.

*pesan masih dalam keadaan 'D' dalam layar ponsel hingga pagi hari*
Huhhh ...

Pesanku tak terbalas nampaknya.


Cengkareng, 6 November 2014

Coretan Sore Hari di Rawamangun

Jangan Dibaca, Karena Ini Tentang Dirimu !

Sore itu tak tampak sinar matahari yang ingin terbenam seperti biasanya. Tak seperti biasanya angin pun ikut tak kunjung menghembuskan dedaunan di sekitar kampus.
Baiklah mungkin itu adalah tanda bahwa mereka sedang tidak bersemangat menyambut datangnya malam.

Ku langkahkan kaki melewati dedaunan kering yang jatuh di tanah bukan karena hembusan angin kencang tapi karena daun-daun itu tak lagi kuat bergelantung di dahannya.

Di sudut bangunan, tepat di samping trotoar tempat kami berkumpul, masih sepi dan tak ada keributan dan celotehan seperti biasanya. Mungkin ini karena aku datang terlalu cepat ke tempat itu sehingga tak ada keramaian, tapi ternyata tidak! Ketika ku lihat ponselku jam menunjukkan waktu yang sudah lewat dari semestinya.

Baiklah, ku teruskan melangkah dan berharap ada seseorang disana.

Oh tuhan harapanku kau kabulkan dengan begitu cepat, ada seseorang sedang memainkan seikat tali di dekat trotoar itu rupanya. Memang terlihat sunyi tak seperti biasanya, tapi ku rasa ini adalah semangat yang tak mungkin orang lain miliki dari gadis itu. Tapi tunggu,, mengapa diriku menjadi kagum akan dirinya? Ada apa ini?

Sudahlah, tak perlu dipermasalahkan soal kekaguman, selayaknya memang dirinya sudah pantas untuk dikagumi.
Dirinya memang membawa aura tersendiri terutama soal semangat, tapi siapakah dia?
Jawabannya adalah orang yang mungkin membaca tulisan ini.

Jakarta, 7 November 2014

Senin, 29 April 2013

Kasih Yang Tercapai - Part 2



berikut adalah lanjutan dari cerita "Kasih Yang Tercapai" sebelumnya.. mari disimak baik-baik kelanjutan kisahnya, selamat membaca ..


Kasih Yang Tercapai - PART 2

                Suasana malam yang sangat sepi, angin yang berhembus kencang terasa sampai kedalam tubuhku dan mencoba menusuk tulang-tulangku. Di suasana yang seperti itu tiba-tiba lewatlah sebuah mobil yang ternyata di dalamnya adalah Mas Panji Wijaya, ia berhenti dan keluar dari dalam mobilnya.
                “hey kamu masih nunggu angkutan ya?” Tanya Mas Panji,
                “iya mas, aku nunggu angkutan yang biasa” jawabku
“ini sudah hampir tengah malam Ren, angkutan sudah jarang ada yang lewat sini, sudah lebih baik kamu bareng dengan saya ya..” jelasnya membujukku agar ikut dengannya.
“baiklah pak kalu begitu, maaf yaa ngerepotin” sahutku dan menerima tawarannya.
Sepanjang perjalanan ternyata aku tertidur pulas, aku terbangun ketika sudah sampai di depan rumah.
                “Ren.. Rena… bangun Ren sudah sampai nih..” katanya dan  membangunkanku
Aku terkejut ketika Mas Panji membangunkanku. “iii iyaa Mas, maaf sepanjang perjalanan aku tertidur.” Kataku
“iya tidak apa-apa, pasti kamu lelah sekali, sana masuk terusin tidurnya di dalam.” Jawabnya dan menyuruhku meneruskan tidur.
“iya Mas, makasih ya atas tumpangannya” kataku dengan senang hati
“iya sama-sama koq Ren, sana masuk, besok jangan sampai telat yaa” pintanya.
Aku pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah sambil membawa berbagai naskah yang belum selesai diedit.
Keesokan harinya aku kembali bekerja di depan meja kerjaku dan seperti biasa beragam naskah sedang menunggu untuk diedit. Namun ketikaku sedang asik mengedit naskah tiba-tiba datang Mba Sinta dengan muka yang seperti biasa selalu mencekam.
“hehh Ren, nih ada naskah silahkan kamu edit yang bener” pintanya sambil melempar setumpuk naskah ke mejaku.
“baik Mba, nanti akan saya kerjakan” jawabku dengan terkejut.
Ketika malam hari Rena kembali pulang dan membawa pekerjaannya ke rumah. Udara malam yang dingin ditambah turunnya hujan membuat suasana menjadi sangat dingin. Aku pun bergegas untuk pulang, aku berjalan seperti biasa sambil menunggu angkutan yang lewat. Namun tak berapa lama aku menunggu tiba-tiba ada seorang dengan mengendarai sepeda motor yang cukup besar berhenti di depan ku, dan ternyata ia adalah Ryan.
                “heyy, Rena? Ngapain kamu disini hujan-hujan” sahut Ryan
“ehh Ryan, iya ini aku Rena, biasa aku lagi nunggu angkutan, kan aku sekarang sudah kerja.” Jawabku dengan tersenyum melihat wajahnya
“oh jadi sekarang kamu kerja di Era Com? Wah hebat dong bisa kerja di perusahaan terkenal”
“ya sudah Ren mending kamu bareng aku yuk, nih aku bawa jas hujan 2 koq, ok” tanyanya dengan sedikit bercanda
                “iya  yan makasih yah” jawabku dengan senang hati

Tanpa disadari dari kejauhan ternyata Panji memperhatikan Rena yang sedang menunggu angkutan sambil membawa begitu banyak naskah untuk diedit dirumahnya. Ia terus memperhatikan karyawan barunya itu yang setiap hari selalumembawa pekerjaannya kerumah. Terlintas di benaknya sebuah pertanyaan mengapa ia selalu membawa begitu banyak naskah? Apa yang sebenarnya terjadi pada Rena?.

Hari berikutnya, Panji yang kemarin memperhatikan Rena membawa begitu banyak naskah untuk diedit, mencoba menyelidiki semua ini. Ia coba mendatangi meja kerja Rena di pagi hari sebelum Rena sampai ke kantor. dan Panji pun melihat ada sesuatu yang aneh, terlihat beberapa naskah yang sedang diedit oleh Rena namun ternyata naskah-naskah tersebut adalah naskah yang novelnya sudah diterbitkan. Sontak ini membuat Panji terkejut mengapa Rena sampai mengerjakan tersebut dan siapa yang memintanya mengerjakan semua ini. Tak berpikir panjang, Panji langsung bertanya kepada pengawas editor, ternyata yang menyuruh Rena mengerjakan semua ini adalah Sinta, pimpinan perusahaan disini. Lantas Panji pun mendatangi Sinta dan menanyakan apakah benar apa yang dikatakan pengawas editor tersebut dan ternyata “Iya” Sinta mengaku bahwa yang menyuruh Rena mengedit naskah-naskah tersebut adalah dia.
“Sinta, jawab pertanyaanku, mengapa kamu melakukan semua ini kepada Rena?” Tanya Panji
“iya karena aku tidak suka dengan anak itu, aku tidak suka dengan pegawai kesayanganmu itu, ngerti” jawab Sinta dengan kesal.
“untuk apa kamu melakukan ini? Apa salah Rena?” Tanya Panji
“ingat ya, aku ini pewaris tunggal dan pemilik saham 100% di perusahaan ini jadi siapa saja yang berani macam-macam samaku maka tak segan-segan aku akan memecatnya, dan dia sudah berani mendekati tunanganku” Jelas Sinta.
“ok Sinta, aku dan Rena itu tidak ada apa-apa, kita berdua hanyalah rekan kerja, aku bos dan dia pegawaiku, paham” kataku mencoba menenangkan Sinta.
“sudahlah….” Jawab Sinta dan terus meninggalkan Panji.

Malam berikutnya ketika aku pulang dari kerja dan membawa berbagai naskah untuk diedit ternyata Mas Panji mengikutiku dari belakang dan ketika aku sampai di rumah dan turun dari ojek yang ku tumpangi, tiba-tiba Mas Panji menghampiriku.
                “Rena… .” panggil Mas Panji
                “eeee.. Mas Panji? Koq bisa ada disini? mau apa?” tanyaku dengan heran.
                “gini Ren, mulai sekarang tinggalkan semua naskah yang kau bawa itu” pinta Mas Panji
                “loh kenapa Mas? Ini kan pekerjaanku?” Tanyaku tambah heran
“iya Ren, jadi semua naskah yang kamu kerjakan itu sebenarnya sudah diterbitkan, ya anggap saja semua ini adalah proses penyesuaian diri terhadap pekerjaanmu ok” jelas Mas Panji mencoba menutupi yang sebenarnya terjadi
“oohh jadi ini semua sebenarnya rekayasa?” sahutku
“iya benar, jadi mulai besok kamu mulai dengan pekerjaan yang sebenarnya” pinta mas Panji
“baiklah Mas kalau begitu” jawabku

Keesokan harinya seperti biasa pagi yang cerah menyambutku dengan ceria. Pagi hari ketika ku sudah berada di meja kerjaku, Mas Panji menghampiriku dan memberikan sebuah naskah baru yang harus diedit.
“Ren, ini ada naskah baru yang harus kamu edit, tolong dikerjakan ya, paling lambat 3 hari” pintanya dengan penuh senyum
“ohh iya Mas, kali ini naskahnya benar-benar baru kan?” tanyaku
“iya Ren, yang ini baru” jawabnya meyakinkan.

Semakin hari seiring berjalannya waktu hubungan Mas Panji denganku menjadi semakin dekat. Entah apa maksudnya dengan kedekatan semua ini, tetapi semua ini ku anggap hanya sebatas rekan kerja. Namun dengan kedekatanku dan Mas Panji, Mba Sinta semakin benci denganku, dia berusaha mengeluarkanku dari kantor hingga suatu hari aku dipanggil ke dalam ruangannya.
“Ren, dipanggil Mba Sinta tuh di ruangannya.” Pinta salah satu pegawai disana
“oh iya makasih ya.” Jawabku
“toktoktoookk….” Suara pintu ke ketok
“ya masuk.” Jawab Mba Sinta dari dalam ruangan
“maaf Mba, ada apa ya Mba manggil saya kesini.” Tanyaku bingung
“nih surat pemecatan anda.” Jawabnya dengan ketus sambil menyerahkan sebuah surat.
“maksudnya apa Mba? Apa salah saya?” tanyaku dengan sangat heran.
“sudah, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke kantor ini.” Pintanya
“tapi atas dasar apa Mba Sinta memecat saya.” Tanyaku lagi
“ingat ya saya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini, 100%. Ingat itu!! Jadi saya berhak untuk memecat siapa saja di perusahaan ini.” Jelasnya dengan sangat emosi
“ok saya terima, tapi ingat Mba saya bisa melaporkan anda ke Depnagker atas pemecatan tanpa alas an yang jelas seperti ini.” Jawabku yang ikut emosi sambil mengancam
“silahkan saja kalu anda mau melaporkan saya.” Tantangnya dengan penuh percaya diri

Aku pun langsung meninggalkan ruangan itu dan kembali ke meja kerja untuk membereskan semua peralatan kerja yang ada. Aku segera meninggalkan kantor itu, namun ketika ku membereskan mejaku, datang Mas Panji yang milahat ku dari kejauhan.
“Rena.. kamu kenapa ren? Apa yang sedang terjadi?.” Sahutnya dan bertanya kepadaku
Aku tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Mas Panji. Aku langsung berlari keluar kantor dan meninggalkan Mas Panji. Namun Mas Panji mengejarku dan menahanku pergi di depan kantor.
“Rena tunggu Rena, jawab aku, apa yang telah terjadi?.” Tanyanya
Lariku terhenti karena tarikannya.
“harusnya sebagai bos kamu tahu apa yang terjadi di dalam kantor ini, tanyakan saja semua kepada Mba Sinta apa yang terjadi!!.” Jawabku dengan sangat kesal
“apa Mba Sinta? Apa yang dilakukannya terhadapmu Ren?.” Tanyanya lagi.
“sudahlah Mas, kamu tanyakan saja padanya.” Jawabku dan langsung meninggalkan kantor dan Mas Panji.

Hari itu juga Mas Panji menemui Mba Sinta saat makan siang di sebuah restoran untuk membicarakan apa yang terjadi terhadap Rena sampai ia meninggalkan kantor seperti itu.
“Sinta, jawab pertanyaanku, mengapa tadi pagi Rena keluar dari kantor dan membereskan semua peralalatan kerjanya?.” Tanya Mas panji dengan Kesal
“aku telah memecatnya sebagai pegawai di kantor ini, kenapa?.” Jelas Mba Sinta dan bertanya balik
“apa? Atas dasar apa kamu memecatnya?.” Tanya Mas Panji
“inget Panji, aku ini pemilik saham terbesar di perusahaan ini, jadi terserah aku kalau aku memecat Rena dari perusahaan ini, ngerti.” Kata Mba Sinta
Mas Panji pun terdiam setiap kali Mba Sinta berkata seperti itu, seolah-olah Mba Sinta adalah penguasa disini.
“ingat Mas, kamu tuh bukan apa-apa sebelum kamu kenal aku, kamu itu Cuma penulis biasa dengan penghasilan yang menunggu omset 6 bulan sekali.” Jelas Mba Sinta tambah ketus
Mas Panji pun mulai gerah dengan semua perkataan Mba sinta.
“ok kamu adalah pemilik saham terbesar disini, tapi ingat kamu tidak bisa apa-apa tanpa bantuan pegawai-pagawai yang lain Sin, silahkan kamu pecat semua pegawaimu dan kamu bekerja sendiri. Apa kamu bisa.” Jawab Mas Panji mencoba membuat Sinta mengerti
“ooohhh Jadi sekarang Mas Panji sudah berani melawan ku semenjak kenal dengan wanita editor itu iya.” Kata Mba Sinta dan langsung beranjak dari kursi dan meninggalkan Mas Panji.

                Seusai menanyakan masalah yang terjadi kepada Mba Sinta, Mas Panji pun berniat untuk menemuiku di rumahku.
Ia pun sampai dirumahku.
                “permisi, Rena…” sahut Mas Panji
                “iya..” ibuku menjawab sambil membukakan pintu
                “Renanya ada bu?” Tanya Mas Panji kepada ibuku
                “Oh.. Rena iya ada, tunggu sebentar yaa.. mari silahkan masuk” pinta ibuku
                “iya bu makasih” jawab Mas Panji
                Mas Panji pun duduk dan menunggu Rena di ruang tamu..
Setelah menunggu beberapa menit datanglah Rena ke ruang tamu menghampiri Mas Panji.

Pembaca yang baik, apakah tujuan sebenarnya Mas Panji mendatangi Rena dirumahnya? Apakah yang akan terjadi pada Rena dan Mas Panji selanjutnya? akankah Rena justru bertengkar dengan Mas Panji? Dari pada penasaran tunggu aja kisah selanjutnya dalam Kasih Yang Tercapai Part 3.