Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Fiktif. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Kasih Yang Tercapai - Part 2



berikut adalah lanjutan dari cerita "Kasih Yang Tercapai" sebelumnya.. mari disimak baik-baik kelanjutan kisahnya, selamat membaca ..


Kasih Yang Tercapai - PART 2

                Suasana malam yang sangat sepi, angin yang berhembus kencang terasa sampai kedalam tubuhku dan mencoba menusuk tulang-tulangku. Di suasana yang seperti itu tiba-tiba lewatlah sebuah mobil yang ternyata di dalamnya adalah Mas Panji Wijaya, ia berhenti dan keluar dari dalam mobilnya.
                “hey kamu masih nunggu angkutan ya?” Tanya Mas Panji,
                “iya mas, aku nunggu angkutan yang biasa” jawabku
“ini sudah hampir tengah malam Ren, angkutan sudah jarang ada yang lewat sini, sudah lebih baik kamu bareng dengan saya ya..” jelasnya membujukku agar ikut dengannya.
“baiklah pak kalu begitu, maaf yaa ngerepotin” sahutku dan menerima tawarannya.
Sepanjang perjalanan ternyata aku tertidur pulas, aku terbangun ketika sudah sampai di depan rumah.
                “Ren.. Rena… bangun Ren sudah sampai nih..” katanya dan  membangunkanku
Aku terkejut ketika Mas Panji membangunkanku. “iii iyaa Mas, maaf sepanjang perjalanan aku tertidur.” Kataku
“iya tidak apa-apa, pasti kamu lelah sekali, sana masuk terusin tidurnya di dalam.” Jawabnya dan menyuruhku meneruskan tidur.
“iya Mas, makasih ya atas tumpangannya” kataku dengan senang hati
“iya sama-sama koq Ren, sana masuk, besok jangan sampai telat yaa” pintanya.
Aku pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah sambil membawa berbagai naskah yang belum selesai diedit.
Keesokan harinya aku kembali bekerja di depan meja kerjaku dan seperti biasa beragam naskah sedang menunggu untuk diedit. Namun ketikaku sedang asik mengedit naskah tiba-tiba datang Mba Sinta dengan muka yang seperti biasa selalu mencekam.
“hehh Ren, nih ada naskah silahkan kamu edit yang bener” pintanya sambil melempar setumpuk naskah ke mejaku.
“baik Mba, nanti akan saya kerjakan” jawabku dengan terkejut.
Ketika malam hari Rena kembali pulang dan membawa pekerjaannya ke rumah. Udara malam yang dingin ditambah turunnya hujan membuat suasana menjadi sangat dingin. Aku pun bergegas untuk pulang, aku berjalan seperti biasa sambil menunggu angkutan yang lewat. Namun tak berapa lama aku menunggu tiba-tiba ada seorang dengan mengendarai sepeda motor yang cukup besar berhenti di depan ku, dan ternyata ia adalah Ryan.
                “heyy, Rena? Ngapain kamu disini hujan-hujan” sahut Ryan
“ehh Ryan, iya ini aku Rena, biasa aku lagi nunggu angkutan, kan aku sekarang sudah kerja.” Jawabku dengan tersenyum melihat wajahnya
“oh jadi sekarang kamu kerja di Era Com? Wah hebat dong bisa kerja di perusahaan terkenal”
“ya sudah Ren mending kamu bareng aku yuk, nih aku bawa jas hujan 2 koq, ok” tanyanya dengan sedikit bercanda
                “iya  yan makasih yah” jawabku dengan senang hati

Tanpa disadari dari kejauhan ternyata Panji memperhatikan Rena yang sedang menunggu angkutan sambil membawa begitu banyak naskah untuk diedit dirumahnya. Ia terus memperhatikan karyawan barunya itu yang setiap hari selalumembawa pekerjaannya kerumah. Terlintas di benaknya sebuah pertanyaan mengapa ia selalu membawa begitu banyak naskah? Apa yang sebenarnya terjadi pada Rena?.

Hari berikutnya, Panji yang kemarin memperhatikan Rena membawa begitu banyak naskah untuk diedit, mencoba menyelidiki semua ini. Ia coba mendatangi meja kerja Rena di pagi hari sebelum Rena sampai ke kantor. dan Panji pun melihat ada sesuatu yang aneh, terlihat beberapa naskah yang sedang diedit oleh Rena namun ternyata naskah-naskah tersebut adalah naskah yang novelnya sudah diterbitkan. Sontak ini membuat Panji terkejut mengapa Rena sampai mengerjakan tersebut dan siapa yang memintanya mengerjakan semua ini. Tak berpikir panjang, Panji langsung bertanya kepada pengawas editor, ternyata yang menyuruh Rena mengerjakan semua ini adalah Sinta, pimpinan perusahaan disini. Lantas Panji pun mendatangi Sinta dan menanyakan apakah benar apa yang dikatakan pengawas editor tersebut dan ternyata “Iya” Sinta mengaku bahwa yang menyuruh Rena mengedit naskah-naskah tersebut adalah dia.
“Sinta, jawab pertanyaanku, mengapa kamu melakukan semua ini kepada Rena?” Tanya Panji
“iya karena aku tidak suka dengan anak itu, aku tidak suka dengan pegawai kesayanganmu itu, ngerti” jawab Sinta dengan kesal.
“untuk apa kamu melakukan ini? Apa salah Rena?” Tanya Panji
“ingat ya, aku ini pewaris tunggal dan pemilik saham 100% di perusahaan ini jadi siapa saja yang berani macam-macam samaku maka tak segan-segan aku akan memecatnya, dan dia sudah berani mendekati tunanganku” Jelas Sinta.
“ok Sinta, aku dan Rena itu tidak ada apa-apa, kita berdua hanyalah rekan kerja, aku bos dan dia pegawaiku, paham” kataku mencoba menenangkan Sinta.
“sudahlah….” Jawab Sinta dan terus meninggalkan Panji.

Malam berikutnya ketika aku pulang dari kerja dan membawa berbagai naskah untuk diedit ternyata Mas Panji mengikutiku dari belakang dan ketika aku sampai di rumah dan turun dari ojek yang ku tumpangi, tiba-tiba Mas Panji menghampiriku.
                “Rena… .” panggil Mas Panji
                “eeee.. Mas Panji? Koq bisa ada disini? mau apa?” tanyaku dengan heran.
                “gini Ren, mulai sekarang tinggalkan semua naskah yang kau bawa itu” pinta Mas Panji
                “loh kenapa Mas? Ini kan pekerjaanku?” Tanyaku tambah heran
“iya Ren, jadi semua naskah yang kamu kerjakan itu sebenarnya sudah diterbitkan, ya anggap saja semua ini adalah proses penyesuaian diri terhadap pekerjaanmu ok” jelas Mas Panji mencoba menutupi yang sebenarnya terjadi
“oohh jadi ini semua sebenarnya rekayasa?” sahutku
“iya benar, jadi mulai besok kamu mulai dengan pekerjaan yang sebenarnya” pinta mas Panji
“baiklah Mas kalau begitu” jawabku

Keesokan harinya seperti biasa pagi yang cerah menyambutku dengan ceria. Pagi hari ketika ku sudah berada di meja kerjaku, Mas Panji menghampiriku dan memberikan sebuah naskah baru yang harus diedit.
“Ren, ini ada naskah baru yang harus kamu edit, tolong dikerjakan ya, paling lambat 3 hari” pintanya dengan penuh senyum
“ohh iya Mas, kali ini naskahnya benar-benar baru kan?” tanyaku
“iya Ren, yang ini baru” jawabnya meyakinkan.

Semakin hari seiring berjalannya waktu hubungan Mas Panji denganku menjadi semakin dekat. Entah apa maksudnya dengan kedekatan semua ini, tetapi semua ini ku anggap hanya sebatas rekan kerja. Namun dengan kedekatanku dan Mas Panji, Mba Sinta semakin benci denganku, dia berusaha mengeluarkanku dari kantor hingga suatu hari aku dipanggil ke dalam ruangannya.
“Ren, dipanggil Mba Sinta tuh di ruangannya.” Pinta salah satu pegawai disana
“oh iya makasih ya.” Jawabku
“toktoktoookk….” Suara pintu ke ketok
“ya masuk.” Jawab Mba Sinta dari dalam ruangan
“maaf Mba, ada apa ya Mba manggil saya kesini.” Tanyaku bingung
“nih surat pemecatan anda.” Jawabnya dengan ketus sambil menyerahkan sebuah surat.
“maksudnya apa Mba? Apa salah saya?” tanyaku dengan sangat heran.
“sudah, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke kantor ini.” Pintanya
“tapi atas dasar apa Mba Sinta memecat saya.” Tanyaku lagi
“ingat ya saya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini, 100%. Ingat itu!! Jadi saya berhak untuk memecat siapa saja di perusahaan ini.” Jelasnya dengan sangat emosi
“ok saya terima, tapi ingat Mba saya bisa melaporkan anda ke Depnagker atas pemecatan tanpa alas an yang jelas seperti ini.” Jawabku yang ikut emosi sambil mengancam
“silahkan saja kalu anda mau melaporkan saya.” Tantangnya dengan penuh percaya diri

Aku pun langsung meninggalkan ruangan itu dan kembali ke meja kerja untuk membereskan semua peralatan kerja yang ada. Aku segera meninggalkan kantor itu, namun ketika ku membereskan mejaku, datang Mas Panji yang milahat ku dari kejauhan.
“Rena.. kamu kenapa ren? Apa yang sedang terjadi?.” Sahutnya dan bertanya kepadaku
Aku tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Mas Panji. Aku langsung berlari keluar kantor dan meninggalkan Mas Panji. Namun Mas Panji mengejarku dan menahanku pergi di depan kantor.
“Rena tunggu Rena, jawab aku, apa yang telah terjadi?.” Tanyanya
Lariku terhenti karena tarikannya.
“harusnya sebagai bos kamu tahu apa yang terjadi di dalam kantor ini, tanyakan saja semua kepada Mba Sinta apa yang terjadi!!.” Jawabku dengan sangat kesal
“apa Mba Sinta? Apa yang dilakukannya terhadapmu Ren?.” Tanyanya lagi.
“sudahlah Mas, kamu tanyakan saja padanya.” Jawabku dan langsung meninggalkan kantor dan Mas Panji.

Hari itu juga Mas Panji menemui Mba Sinta saat makan siang di sebuah restoran untuk membicarakan apa yang terjadi terhadap Rena sampai ia meninggalkan kantor seperti itu.
“Sinta, jawab pertanyaanku, mengapa tadi pagi Rena keluar dari kantor dan membereskan semua peralalatan kerjanya?.” Tanya Mas panji dengan Kesal
“aku telah memecatnya sebagai pegawai di kantor ini, kenapa?.” Jelas Mba Sinta dan bertanya balik
“apa? Atas dasar apa kamu memecatnya?.” Tanya Mas Panji
“inget Panji, aku ini pemilik saham terbesar di perusahaan ini, jadi terserah aku kalau aku memecat Rena dari perusahaan ini, ngerti.” Kata Mba Sinta
Mas Panji pun terdiam setiap kali Mba Sinta berkata seperti itu, seolah-olah Mba Sinta adalah penguasa disini.
“ingat Mas, kamu tuh bukan apa-apa sebelum kamu kenal aku, kamu itu Cuma penulis biasa dengan penghasilan yang menunggu omset 6 bulan sekali.” Jelas Mba Sinta tambah ketus
Mas Panji pun mulai gerah dengan semua perkataan Mba sinta.
“ok kamu adalah pemilik saham terbesar disini, tapi ingat kamu tidak bisa apa-apa tanpa bantuan pegawai-pagawai yang lain Sin, silahkan kamu pecat semua pegawaimu dan kamu bekerja sendiri. Apa kamu bisa.” Jawab Mas Panji mencoba membuat Sinta mengerti
“ooohhh Jadi sekarang Mas Panji sudah berani melawan ku semenjak kenal dengan wanita editor itu iya.” Kata Mba Sinta dan langsung beranjak dari kursi dan meninggalkan Mas Panji.

                Seusai menanyakan masalah yang terjadi kepada Mba Sinta, Mas Panji pun berniat untuk menemuiku di rumahku.
Ia pun sampai dirumahku.
                “permisi, Rena…” sahut Mas Panji
                “iya..” ibuku menjawab sambil membukakan pintu
                “Renanya ada bu?” Tanya Mas Panji kepada ibuku
                “Oh.. Rena iya ada, tunggu sebentar yaa.. mari silahkan masuk” pinta ibuku
                “iya bu makasih” jawab Mas Panji
                Mas Panji pun duduk dan menunggu Rena di ruang tamu..
Setelah menunggu beberapa menit datanglah Rena ke ruang tamu menghampiri Mas Panji.

Pembaca yang baik, apakah tujuan sebenarnya Mas Panji mendatangi Rena dirumahnya? Apakah yang akan terjadi pada Rena dan Mas Panji selanjutnya? akankah Rena justru bertengkar dengan Mas Panji? Dari pada penasaran tunggu aja kisah selanjutnya dalam Kasih Yang Tercapai Part 3.

Selasa, 18 Desember 2012

Cerita Fiktif - Kasih Yang Tercapai Part 1


Kasih Yang Tercapai
Oleh @ajhezae

                Namaku Renata, Renata Citra Gunawan. Kegiatan sehari-hariku adalah menulis, menulis, dan menulis. Menulis adalah hobiku dan sudah banyak novel yang telah jadi namun ketika novel-novel tersebut ku kirim ke penerbit, entah mengapa penerbit selalu menolak hasil tulisanku. Namun penolakan yang terus ku terima tidak membuatku berhenti dalam menulis sebuah novel, ini semua karena cita-citaku menjadi seorang penulis sangatlah kuat dan termotivasi pula oleh sosok idolaku yakni Panji Wjijaya. Novel yang kali ini ku tulis berjudul Kasih Yang Tercapai , novel ini berkisahkan tentang aku dan Ryan. Ryan adalah sosok laki-laki yang idamanku, ia tak kalah tampat dengan penulis Panji Wijaya. Ketika novel yang kali ini ku tulis telah selesai aku ingin orang yang pertama mebaca novel ini adalah Ryan.
                Pagi yang cerah, suasana yang sejuk dan kicauan burung yang merdu membuat tidurku yang nyenyak terbangun dan menjadi lebih semangat dalam menjalani hari ini. Naskah pun selesai dan aku ingin menyerahkan naskah novel ini kepada Ryan agar ia menjadi pembaca novel ku yang pertama. Kami janjian di sebuah taman untuk bertemu dan membaca naskahnya. Dalam perjalanan jantungku terasa bergetar begitu kencang, aku selalu membayangkan bagaimana ketika nanti Ryan. “Ryan,, semoga kamu akan suka dengan novel ini dan mengerti apa maksud novel yang ku buat ini untuk kamu. Kalau kamu sudah mengerti, kamu akan jadi pacar aku deh” bayangku dalam dan berkata dalam hati ketika berada di angkutan umum. Sesampainya di taman aku telah melihat sosok Ryan yang sedang menungguku di bangku tepat di bawah pohon. Aku pun langsung menghampiri Ryan yang berada disana. Namun ketika ku ingin menghampiri Ryan, tiba-tiba datang sesosok wanita datang menghampiri Ryan dan memeluk Ryan. Lantas aku terkejut melihat pemandangan yang seperti itu, pemandangan yang jauh dari apa yang ku bayangkan, sontak aku menangis melihat kejadian itu. Aku pun segera pergi dari tempat itu dan mencoba menghilangkan semua bayangan yang ada dibenakku tentang Ryan. Aku kecewa dan sedih melihat kejadian tadi sontak ku lemparkan semua naskah yang ku bawa untuk Ryan.
                Sesampainya dirumah pada malam hari aku pun terus menangis dan terus mencoba menghilangkan bayangan tentang kejadian tadi. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamarku “Ren, boleh kakak masuk..?” Tanya Rini, kakakku. Namun aku tak menjawab pertanyaannya, kakakku langsung masuk dan menanyakan apa yang sedang terjadi kepadaku “kamu kenapa Ren? Apa yang sedang terjadi kepadamu?” aku pun tak mau menceritakan semua kejadian yang terjadi terhadapku. Mungkin karena ku tak menjawab pertanyaannya, ia sadar bahwa aku sedang tak ingin diganggu siapa pun dan ingin menyendiri.
                Keesokan harinya Rini memberitahukanku tentang sebuah lowongan di suatu perusahaan penerbitan yaitu Era Com sebagai editor. Sontak aku pun menolaknya karena editor merupakan pekerjaan yang sangat mudah bagi orang sepertiku, sementara keinginanku adalah menjadi seorang penulis.
“apa-apaan kak, masa aku jadi editor sih, aku kan maunya jadi penulis bukan editor” kataku kepada Rini.
“iya kakak tahu kamu ingin jadi penulis, tapi apa salahnya kalu jadi editor?” jawan Rini
“gak kak, editor sama penulis itu beda, pokoknya aku gak mau” sahut Rena.
Beberapa hari kemudian saat pagi hari yang dingin ditambah hembusan angin yang menggetarkan jiwa, tiba-tiba datang Rini kakakku dan berkata,
                “hey Ren, nih ada surat dari penerbit, baca nih udah 2 hari ada di kotak surat bukannya diambil”
                “hahh, penerbit? Aku kan gak ngirim naskah ke penerbit kak?” jawabku dengan heran
                “Udah baca aja, nih” pintanya sambil menyerahkan sepucuk surat kepadaku
Ternyata isi dalam surat itu adalah surat penerimaan kerjaku sebagai editor di Era Com.
                “apa kak? Aku diterima sebagai editor, kok bisa? Aku kan gak kirim lamaran” tanyaku penuh kebingungan.
                “iya itu aku yang kirimkan lamaran untukmu ke penerbit Era Com, habisnya kamu nolak terus sih, kalo gak kaya gini kapan kamu akan mau kerja Ren? Ya sudah pokoknya besok kamu datang ke kantor itu ok.” Jawabnya
                “tapi kan kak aku gak mau jadi seorang editor” kataku dengan penuh kesal

Keesokan harinya, aku pun harus bangun lebih pagi untuk segera berangkat ke kantor guna memenuhi wawancara kerja tersebut. Ketika dalam perjalanan dan ingin menyebrang jalan aku hampir ditabrak sebuah mobil sontak aku menjerit
“hehh kalau naik mobil yang bener dong? Bisa gak sih nyetir yang bener?” teriakku dengan penuh emosi. Namun aku terkejut ketika melihat orang yang ada di dalam mobil tersebut. Dia ternyata adalah Panji Wijaya seorang penulis idolaku. Lantas aku tersenyu dibuatnya.
Sesampainya di kantor itu, aku pun langsung duduk menunggu panggilan untuk wawancara. Namun ketika aku duduk di ruang tunggu, tiba-tiba orang-orang di sekitarku mentertawakan penampilanku, entah mengapa mereka semua tertawa. Mungkin ada yang aneh dengan baju yang ku kenakan karena saat itu aku datang ke kantor dengan berpakaian yang cukup santai dengan kaos ditambah kemeja dikeluarkan dan memakai celana jeans.
Datanglah seorang wanita dan memanggil namaku
“Renata Citra Gunawan, silahkan masuk”
“iya saya” jawabku sambil menunjuk jari dan mengikuti langkah wanita itu ke dalam sebuah ruangan.
Dan apa yang terjadi, ternyata orang yang mewawancaraiku adalah Panji Wijaya, seorang penulis terkenal yang ku idolakan selama ini. Aku pun langsung duduk setalh ia memintaku.
                “nama anda Renata Citra Gunawan?” Tanya sang bos sekaligus sang penulis idolanya
“iya pak nama saya Renata Citra Gunawan, Citra adalah nama ibu saya, Gunawan adalah nama almarhum ayah saya, dan Renata sendiri adalah nama saya pak” jawabku dengan ceria
“iya cukup, lalu apa saja pengalaman anda” Tanyanya lagi dengan serius
“hmm pengalaman ya… saya sudah banyak menulis novel pak dan teman-teman saya juga banyak yang menyukai tulisan saya pak” jawabku
“baik kalau begitu, mulai besok anda bekerja disini dan datang lebih pagi kaena anda saya terima” pintanya dengan senang hati.
“terima kasih banyak pak” kataku dan kemudian berpamitan keluar ruangan.
Mendapat penerimaan kerja seperti ini membuat ku cukup gembira karena tidak lagi harus meminta uang kepada kakakku Rini. Dalam perjalanan pulang aku terus tersenyum gembira karena dapat diterima walaupun hanya sebagai editor.
                “Mamah… mahhh… aku diterima kerja di perusahaan Era Com mah” teriakku dengan penuh semangat ketika sampai dirumah.
                “tuh kan pasti kamu diterima kerja disana, semangat yaa” kata ka Rini sambil tersenyum
                “iya kak makasih ya walaupun hanya sebagai editor” jawabku
                “sudah kamu jalani saja dulu” kata mamah memberi semangat.
Aku pun bingung besok mulai bekerja harus mengenakan apa, sementara aku tak punya pakaian kantoran, aku tak mau orang-orang mentertawakanku seperti tadi lagi. Aku pun meminjam baju dan sepatu kak Rini.
               
“Kringggggg… kriiiingg…”  suara alarm berbunyi nyaring bertanda sudah pagi
  Aku pun terbangun dan memulai aktifitas yang baru ini, aku memakai pakaian yang ku pinjam dari kak Rini. Aku tidak terbiasa memakai pakaian dress seperti ini dengan sepatu hak tinggi karena ini bukanlah cirri-ciriku. Dengan sangat terpaksa dan sangat susah dalam berjalan aku terus mencoba untuk berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor aku berpapasan dengan Pak Panji, dia melihatku yang sedang terpeletot dengan sepatu hak tinggi ang ku pakai ini.
“gak nyaman kan?” sahut Mas Panji
“hmmm iya mas” jawabku
“besok-besok kalau gak nyaman gak usah dipakai, besok pakai jeans seperti biasa saja ya” pinta mas Panji dengan tersenyum.
“baik mas, kalau begitu”
Saat makan siang aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan Mas Panji dengan salah seorang wanita yang aku sendiri tidak tahu itu siapa.
                “aku dengar kamu merekrut pegawai baru, benar?” Tanya sang wanita
                “iya benar, aku merekrut seorang editor namanya Renata Citra Gunawan” jawab Mas Panji
                “oh sampai hapal banget namanya, istimewa banget ya” kata wanita itu
“gak, bukannya gitu sin, abisnya dia tuh orangnya unik dan aneh, cocok dengan criteria editor yang sedang aku cari untuk mengedit drama komedy” jawab Mas Panji berusaha menjelaskan
“gitu ya, semoga saja drama komedynya gak berubah jadi drama romantic” sahut wanita itu dan langsung meninggalkan Mas Panji.
“sin, maksud kamu apa sin..?” Tanya Mas Panji
Belum pertanyaan itu terjawab, sang wanita segera pergi dari tempat itu.
Keesokan harinya ketika aku sampai di kantor dengan terburu-buru, aku tak sengaja menabrak seorang wanita dan kemudian ia memarahiku.
                “hati-hati dong kalo jalan, punya mata kan?” katanya dengan ketus
“yee kamu tuh yang gak punya mata nabrak orang malah marah-marah” jawabku
membela diri
                “kamu gak tahu siapa saya? Tanya wanita itu
                “tahu, kamu pasti orang baru yang mau melamar kerja disini kan?” jawabku meledek
“inget ya, aku Sinta, pemilik saham terbesar disini dan saya adalah bos anda, jangan macem-macem terhadap saya, ok!” jelasnya dengan sangat kesal
“mmm… maaf mba, maaf”, pintaku dengan hati deg-degan.

Setelah kejaidan itu aku pun langsung pergi kedalam kantor dan kembali mengerjakan tugasku sebagai editor. Namun beberapa saat kemudian tiba-tiba teman-teman pegawai menyerahkan begitu banyak naskah untuk segera diedit dan semua pekerjaan tersebut harus segera diselesaikan paling lambat 2 hari lagi. Aku pun pusing dibuatnya, begitu banyak naskah yang harus diselesaikan, belum lagi ada naskah yang harus diselesaikan esok hari, ini membuatku stress. Tetapi dengan tekad yang kuat aku harus mengerjakan pekerjaan ini dengan serius dan ikhlas. Hingga larut malam aku terus bekerja dan tanpa disengaja aku tertidur di meja kerjaku.
                “Ren, rena… bangun ren….” Sahut Mas Panji yang melihat ku tertidur
                “hhhh,, iya Mas, maaf saya ketiduran” jawabku dengan mata yang masih mengantuk
                “pulang sana Ren sudah malam, pekerjaanmu boleh dibawa pulang koq.” Kata Mas Panji
                “hhmmm baik Mas kalau begitu” jawabku kembali sambil membereskan semua pekerjaanku
                “saya duluan ya Ren” kata Mas Panji
                “iya mas” jawabku dengan senyum.

Melihat  jam menunjukkan pukul setengah 12, aku pun segera berjalan pulang, aku berjalan sambil menunggu datangnya sebuah ankutan umum yang biasa ku tumpangi, namun sejauh aku berjalan, tak ada satu pun angkutan yang lewat. Di malam yang larut dan sepi sunyi sepeti ini, tentunya sebagai seorang wanita aku pun merasa takut berjalan sendirian. Tiba-tiba lewatlah sebuah mobil dan berhenti di depanku, aku tidak mengetahui siapa yang ada di dalam sana.

Pembaca yang baik, tahukah kalian siapa orang yang berada di dalam mobil dan berhenti di depan Rena tersebut, apakah yang akan terjadi dengan Rena? Dan apakah dia akan baik-baik saja, tunggu kelanjutannya dalam Part 2 ok.