Minggu, 28 Juni 2015

Coretan Tanda Tanya - Haruskah?



HARUSKAH?
Ahmad Zaelani


Diri ini sangat senang ketika dirimu tahu bahwa aku suka menulis tentang dirimu karena apa yang di awal aku tulis aku tak berharap bahwa dirimu akan membacanya. Terlebih aku bersyukur jika dirimu menyukai apa yang ku goreskan dalam dunia buntu ini, hanya saja mulai hadir pertanyaan yang memang harus kau jawab ketika kau mulai memintaku untuk kembali menulis dan menulis lagi tentang dirimu. Yaa aku tahu bahwa dirimu sangat menyukai tulisan yang membicarakan tentang dirimu. Namun pertanyaan ini sangat kuat dan butuh jawaban pasti agar jemari ini bisa leluasa menuliskan apa yang ada dipikiranku tentang dirimu. Aku berharap ketika kau membaca ini, kau mau menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah sering ku ajukan namun tak satu pun jawaban yang ku harapkan keluar dari bibirmu yang manis itu.

Mengapa kau memintaku menulis?

Apa yang kau lakukan setelah kau membaca tulisanku? 

Apakah akan ada perubahan dan kau melakukan sesuatu sesuai dengan yang ku tuliskan tentangmu? 

Apakah setelah kau membaca tulisan-tulisanku kau akan menyimpannya dan mencoba untuk mengubah keadaan yang saat ini berada dalam titik kebimbangan antara aku kau dan sekat?


Terima kasih.


Kamar Busuk, 28 Juni 2015

Coretan Keraguan - RAGU



RAGU
Ahmad Zaelani


Malam seperti biasa dimana suasana kampus menjadi teman yang mungkin akan terus menjadi teman sunyi di kala malam dengan suara teriakan sana sini yang tak diketahui dari mana datangnya teriakan itu, teriakan yang menandakan bahwa ada kumpulan orang-orang yang melakukan kegiatannya sendiri tanpa beban dan terus terbenam oleh keasyikan di kelompoknya. Ada suatu ketika diri ini tak semenarik biasanya, tak melakukan kebiasaan yang orang lain sudah paham, tak menatap mata dirinya yang sudah menjadi kebiasaan rutin, dan tak memberikan garis 10 detik yang sudah menjadi bumbu di malam hari.

Aku sangat senang ketika dirinya terlihat begitu semangat, terlihat begitu ceria, dan sangat lepas mengeluarkan tawa yang sangat khas walaupun itu semua hadir bukan denganku, dan diri ini hanya perhatikan hal tersebut secara diam dan memberikannya garis 10 detik ketika ia menengok ke arahku. Sebelum begitu jauh masuk ke dalam tulisan ini, aku hanya ingin menakankan bahwa aku hanyalah seorang pengamat yang memperhatikan seorang gadis yang ada di dalam tujuan dan harapan hidupku, hanya mengamati, tidak lebih, jadi tidak ada untukku hak dan lainnya untuk bisa memaksakan apa yang aku mau.

Baik itu disadari atau pun tidak, mata ini selalu memperhatikan gerak gerik dirinya yang menurutku memang patut untuk diperhatikan agar aku bisa belajar tentang dirinya lewat gerak bukan hanya dengan bahasa ucapan dari dirinya.  Hingga samapai suatu ketika aku sering kali heran dan ragu dengan apa yang ia lakukan, ingat aku hanya memperhatikan dan ini adalah asumsi pribadiku tentang dirinya. Entah apa yang merasuki pikiranku sehingga aku berpikir hal yang sepertinya tidak mungkin. Aku melihat dirinya begitu akrab dengan banyak orang, namun kutahu bahwa ia memang akrab dengan orang itu dan tak bisa dipungkiri aku pun tahu bahwa ia juga melakukan texting dengan orang itu. Aku berusaha berpikir positif dan tetap menganggap bahwa itu tidak ada artinya. Namun apa yang merasuki pikiran ini begitu kuat hingga aku teringat dengan suatu perbincangan yang saat itu terjadi hingga pukul 3 pagi sebelum ramadhan. Aku sengaja memancing dan melihat bahwa dirinya juga melakukan texsing yang begitu intens dan ada hal yang ditutupi dan aku tak diizinkan untuk melihat, aneh memang. Entah apa yang ditutupi sampai saat ini aku pun tak mengetahuinya. Hal itulah yang membuat perasaan ragu bercampur pikiran yang kacau mengobrak-abrik semuanya, terkadang keraguan itu hadir dan membuat ku terdiam seketika. Memang mungkin ini hanyalah ketakutanku akan kehilangan, tapi aku hanya memperhatikan dirinya dan itulah yang kulihat, sangat akrab, nyaman, ceria, dan tanpa beban. Itulah yang kudapat ketika ku perhatikan dirinya dengan orang lain dan yang menjadi keraguan tertinggiku adalah apakah hal tersebut terjadi ke semua orang di dekatnya? canda tawa, hingga texting yang intens juga dilakukan ke semua.

Barat Jakarta, 28 Juni 2015

Coretan Penting - Jangan Sebut Lagi



JANGAN SEBUT LAGI
Ahmad Zaelani

Perbincangan yang mungkin taka da hentinya terus bergulir baik itu pagi siang sore hingga malam. Kali ini ada gurauan penting tak penting yang ku rasa harus dibahas dan dianggap serius dan patut untuk diperbincangkan. Siang itu tepat pada hari jum’at pukul 12.40 waktu Indonesia bagian barat, diri ini dan dirinya kembali bergurau dan tentunya bukan bergurau secara langsung sebab seperti perkataannya Abdoel Moeis dalam bukunya Salah Asuhan yang mengatakan barat tinggalah barat dan timur tinggalah timur memang benarlah adanya, namun hanya berbeda konteks, Abdoel Moeis berbicara adat, diri ini berbicara lokasi antara diriku dan dirinya. Berbicara jarak, semoga hal itu bukan menjadi masalah yang rumit sebab sejauh apapun jarak ketika kasih dan sayang sudah memanggil untuk menjemput sang putri maka saat itu tak ada jarak sejangkal pun bagiku untuk dirinya (semoga hal ini tidak dianggap lelucon olehnya). Ku kira cukuplah mempersoalkan jarak, ini karena Abdoel Moeis saja.

Balik pada persoalan gurauan yang dianggap penting tak penting. Diri ini sangat nyaman sejatinya ketika berbincang apapun itu bersamanya, namun saat itu, pada siang itu ada yang sangat mengganggu mood ini dan mengacaukan segala pikiran nyaman dalam sebuah perbincangan yang sangat menarik antara diri ini dan dirinya. Sejak sebulan yang lalu, diri ini sudah memutuskan apa yang ingin ku lakukan agar semua terbebas dari jeratan asmara yang bisa dibilang bangsat itu. Diri ini sudah mengkokohkan niat dan sudah bisa berjalan lurus tanpa menengok kanan kiri bahkan ke belakang. Namun sayang dirinya belum sadar rupanya bahwa niat ini benar-benar sudah bulat akan tujuan yang lebih penting tentang seorang gadis yang membuatku nyaman berbincang dan bertukar garis 10 detik. Ingatlah apa yang kau katakan waktu itu yang diri ini lupa pada hari dan tanggal berapa yang jelas dirimu mengatakan bahwa kau akan membantuku untuk tidak menengok ke belakang, aku ingat kau mengatakan hal tersebut tepat pada pukul 9.55.

Jika dirimu itu menganggap bahwa setiap perkataan ini adalah palsu maka silahkan kau hapus histori dan laporkan tulisan-tulisan ini sebagai sampah yang tak berguna. Dalam tulisan sebelumnya diri ini sudah menjelaskan apa yang ku harapkan tentang tujuan diri ini melangkah dan terus menunggu hingga sekat itu tidak ada. Memang sangat buruk niat yang terkahir yakni menunggu tidak adanya sekat, tapi itulah yang kudambakan saat ini.

Kembali pada persoalan bahwa diri ini sedikit kesal dan kecewa ketika kau kembali mengingatkan hal-hal yang sudah hampir tak tercium sama sekali dan sudah lepas dari pandangan, dirimu seakan mengacuhkan apa yang sudah ku jabarkan panjang lebar lewat tulisan-tulisan yang memang tak terlalu penting untukmu, yang diri ini sendiri tak tahu apa yang kau lakukan setelah meminta menulis sesuatu tentang dirimu. Diri ini kecewa tentang perkataanmu yang mengingatkan kebangsatan yang tak pantas kembali diperbincangkan. Kenapa diri ini bisa kecewa dan kesal mendengar kau mengingatkan kembali? Sudah sangat jelas jawabannya jika kau lebih teliti dengan orang dihadapanmu, kau adalah tujuan dari semua yang kulakukan saat ini, maka untuk apa kau kembali memaksa untuk memunculkan kebangsatan yang sudah lalu itu, karena sejatinya saat ini yang patut diperbincangkan hanyalah aku, kau dan sekat yang menurut keegoisanku harus hilang.

Barat Jakarta, 28 Juni 2015

Jumat, 19 Juni 2015

Coretan Dini Hari - Istimewa

Istimewa
Oleh Ahmad Zaelani

Pada tulisan sebelumnya aku telah menjelaskan bagaimana harapanku terhadap dirinya yang memiliki garis keindahan 10 detik. Tentang apa yang sedang aku lakukan dan mengapa aku melakukan itu semua. Namun semua itu tentunya memiliki alasan tersendiri. Dan alasan tersebut adalah karena bentuk keistimewaan yang dimiliki oleh dirinya yang mungkin hanya diri ini yang dapat merasakan, walaupun apa yang diri ini rasakan tidak sepenuhnya dapat ku rasakan dengan leluasa karena adanya sekat, aah bangsat!! Lagi-lagi sekat! Persetan dengan sekat itu, sudahlah bung, fokus.

Maaf saudara sekalian, aku jadi tidak fokus karena sekat itu. Baiklah kali ini aku akan coba gambarkan bagaimana keistimewaannya sehingga dapat memberikan alasan mengapa aku harus menunggu.

Sejatinya memang sudah lama diri ini merasakan keistimewaan darinya, bahkan dirinya pun sudah merasakan hal yang sama, hanya saja semua tidak berjalan dengan baik karena diri ini memiliki sekat waktu itu, dan dirinya belum, hingga saat ini semua berjalan terbalik, dan keistimewaan semakin terasa. Satu yang paling istimewa adalah garis yang hadir setelah 10 detik dari wajahnya yang sangat menggemaskan. Sebelumnya garis itu tidak terlihat nyata, dan ia berpikir bahwa mungkin hanya guyonan semata dan tidak memiliki arti, hingga akhirnya aku menjelaskan alasan dan kulakukan terus menerus untuk membuatnya yakin bahwa yang ia pikir sebagai guyonan adalah kenyataan yang sebenarnya serius dan datang bukan dari pikiran tapi dari hati.

Saat ini garis yang ku katakana 10 detik itu benar-benar terasa bahkan ketika garis itu menghilang, aku sungguh mencarinya kemana garis itu pergi, dan tanpa ku sadari, hal yang sama pun terjadi pada dirinya. Suatu ketika aku tidak sengaja tidak mengeluarkan “guyonan nyata” pada dirinya dan kemudian ternyata ia berkicau bahwa ia mencari dan menunggu garis yang dikatakannya guyonan itu. Entah apa yang membuat dirinya seperti ini, diri ini semakin bingung dengan kenyataan. Namun itulah yang membuat diri ini semakin percaya diri untuk menunggu hancurnya sekat di ruang ini.

Ahh goblok, sekat lagi, sekat lagi!!

Mungkin sejak tadi aku hanya menceritakan tentang garis, garis dan garis, lalu dimana keistimewan lainnya?

Dalam diri seorang wanita tentu tidak terlepas dari kesan feminis, dan dalam dirinya kesan feminis itu mampu hadir dan diimbangi dengan ketidakberlebihan seorang wanita, terkadang ia terlihat anggun dan terkadang tidak, tapi hebatnya ia bisa mengimbangi keduanya dan tetap terlihat sebagai dirinya yang energic dan menawan. Ahh iya dan yang membuat diri ini semakin terpikat adalah ketika ia meneteskan air matanya dihadapanku dan mampu tersenyum kembali entah itu karenaku atau bukan yang jelas itu adalah keistimewaan tersendiri dibalik sosok yang energic ia mengaku bahwa dirinya adalah gadis yang cengeng. Sebelumnya aku tak percaya bahwa ia sangat mudah meneteskan air mata, hingga sampai suatu ketika selama satu jam ia meneteskan air matanya di balik kaca helm, itu membuatku sedikit kaget, segitu besarnya salahku hingga aku diberikan air mata yang begitu deras selama satu jam. Aku hanya bisa mengobati hal tersebut dengan cara tertawa. Dasar bodoh kenapa ditertawakan? Ya begitulah aku belum terlalu mengerti bagaimana caranya menghapus tetesan itu dengan tepat. Mungkin inilah kelemahanku, dan diriku perlu waktu untuk mempelajari itu.

Saat ini waktu tengah menunjukkan pukul 4 pagi, dan aku masih sulit merangkai kata bagaimana menggambarkan betapa istimewa dirinya. Ia mampu hadir di tengah kekosongan hingga akhirnya diri ini masuk ke dalam ruang yang terdapat sekat. Ahh tai sekat lagi sekat lagi.

Mungkin yang dapat mewakilkan betapa istimewanya adalah ketika jemari ini mengetik sebuah pesan maka diri ini mengeluarkan senyum yang tidak bisa ditutupi, lalu ketika diri ini menatap wajahnya seakan tak bisa begitu saja melepaskan pandangan dari matanya sebelum garis itu hadir melelehkan tatapan, kemudian ketika berada bersama mulut ini tak dapat berkata seperti apa yang telah direncanakan sehingga seketika keduanya berdiam dan bingung ingin berkata apa hingga akhirnya keduanya berpisah dan baru sadar kenapa aku tidak berbicara seperti ini, dan yang paling terlihat bahwa ia istimewa adalah ketika diri ini memutuskan untuk menunggu sampai waktu itu tiba.
Dan mungkin hanya sedikit keistimewaan yang ku coret-coret disini, tapi sungguh sejatinya keistimewaan itu sangat luar biasa terasa terutama yang tidak bisa ku jabarkan disini.


Bangun Nusa, 20 Juni 2015

Coretan Penting Tengah Malam - Kenapa Menunggu?

Kenapa Menunggu?
Oleh Ahmad Zaelani

Sekarang adalah hari ini ditemani oleh kenyataan dan esok adalah harapan yang mungkin diselimuti oleh kekecewaan seperti hari yang lalu yang mana kekecewaan masih membayangi. Mungkin kalimat itu yang akan mengantarkan tulisan ini menuju titik fokus pada harapan yang entah akan terwujud kapan. Harapan itu sebenarnya ada di dalam sebuah lingkaran yang tak terputus, namun kadang ukuran lingkaran itu kecil bahkan besar. Kita tahu bahwa lingkaran tidaklah memiliki sisi, namun sepertinya hal tersebut ditolak dalam cerita ini. Lingkaran yang tak terputus itu nyatanya memiliki sisi, kadang aku di timur ia di barat, kadang aku di utara ia di selatan begitu pun sebaliknya, ia jarang sekali menyatukan lututnya dengan lututku bahkan hal tersebut bisa dibilang tak pernah. Tapi tak apa, dengan ia selalu ada di sisi lain dariku maka aku dengan leluasa menatap keindahan yang diberikan Tuhan kepada manusia walaupun keindahan tersebut sudah dimiliki manusia lainnya.

Oh iya aku sampai lupa bahwa yang ku maksud 'ia' adalah dirinya yang merespon garis 10 detik. Di awal aku katakan bahwa aku bisa menatap keindahan yang diberikan Tuhan kepada manusia, mungkin saat ini hanya diriku saja yang merasakan keindahan tersebut, atau hanya aku saja yang merasa terlalu percaya diri dengan menyebut bahwa itu adalah keindahan yang diberikan khusus untukku. Entahlah, memang benar apa kata orang di luar sana bahwa harapan harus sejalan dengan realitas, tapi menurutku tidak selalu seperti itu. Jika berbicara harapan harus sejalan dengan realita maka akan sia-sia apa yang aku lakukan saat ini.

Saat ini aku dan dirinya sedang berada dalam ruang yang sama, namun sayang dalam ruangan ini terdapat sekat yang cukup mengganggu. Oh tunggu maksudku mengganggu hanya untuk diriku bukan dirinya. Dalam ruang ini mungkin aku yang salah karena berani masuk tanpa berpikir panjang, tapi itu orang lain yang berkata bahwa aku tidak berpikir panjang, aku memutuskan untuk masuk ke ruang ini, masuk ke dalam ruang yang di dalamnya ada dirinya ditemani keindahan garis 10 detik sudah berpikir lebih lama bahkan… ah sudahlah tak perlu diungkit masa lalu yang penuh kekecewaan. Ingat apa yang aku katakana di atas bahwa hari ini adalah kenyataan dan masa lalu adalah kekecewaan.

Mengapa aku begitu bodoh melakukan hal ini? Masuk ke dalam ruang yang di dalamnya ada dirinya yang akhirnya ia pun mencoba menutup dirinya dengan sekat itu? Dasar tolol, itu sudah menjadi risiko, tak perlu disesali, ingat tujuan, ingat pertama kali dirimu ini memutuskan bahwa dia sebagai pemilik garis 10 detik adalah orang yang terakhir menjadi “teman”. Bukankah kamu sendiri yang sudah memantapkan niat untuk menunggu??

Aaaahhh… pemikiran macam apa itu? Aku heran apakah pikiran itu bisa dikatakan penyemangat untuk diri ini terus menunggu. Iya mungkin iya, aku memang sudah berniat untuk menunggu, tapi bukan berarti aku harus merusak sekat, tidak, aku tidak akan merusak sekat di ruangan ini, hanya saja aku ingin sekali mendobrak sekat ini agar keindahan 10 detik akan terlihat dengan sangat jelas dan bahkan tidak hanya 10 detik tapi sepanjang waktu.

Apa yang baru saja ku katakan adalah harapan, harapan untuk menjadikan dirinya teman terakhir sampai diri ini tak bisa menatap indahnya matahari terbenam dari jalan layang yang menjadi titik kesukaanku di kota ini.

Tapi apakah diri ini terlalu egois jika harus memaksakan kehendak tentang dirinya?
Sudahlah… hanya waktu yang bisa menjadi teman dirimu dalam menunggu sebuah keajaiban. Harapan tetap harapan walaupun nyatanya apa yang diri ini harapkan tidak sesuai dengan realita dan terlalu percaya diri.

Terima kasih garis keindahan 10 detik!

Bangun Nusa - 20 Juni 2015

Coretan Tolol - Sudah Cukup

SUDAH CUKUP
Anonymous


Aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan Tia sebulan yang lalu, sangat sulit kenyataan ini ku terima sebab perasaan yang begitu dalam yang ku simpan dan ku jaga selama tiga tahun ini sangatlah kuat bahkan diri ini yakin bahwa kekuatan kasih cinta dan sayang ini tidak akan ada yang bisa menghancurkan. Mengingat hubungan yang berjalan sangat dramatis dan melankolis ini memang selalu membawa senyum tersendiri jika suatu ketika teringat dalam bayangan. Namun apa daya harapan akan kekuatan cinta ini tidak dapat bertahan jika yang memperjuangkannya hanyalah diri ini seorang. Sore itu ia meminta untuk mengakhiri semua ini, saat aku sedang sibuk akan tanggung jawab yang memang benar tidak bisa dilepaskan begitu saja. Diri ini berusaha sabar akan keputusan tersebut dan menganggap bahwa itu adalah kejenuhan seorang wanita semata yang nantinya akan kembali pada titik normal seperti sedia kala, karena disisi lain pula diri ini yakin akan dirinya. Hingga pada dua hari berlalu setelah kepenatan dan tanggung jawab akan pekerjaan berkurang sedikit, aku mulai berpikir tentang apa yang terjadi dan mengapa bisa sampai terjadi.

Malam itu pukul sebelas malam aku menyendiri di atas rumput hijau di temani cahaya rembulan yang terhalang oleh dahan pohon ditaman kampus. Aku teringat dengan apa yang baru saja terjadi dengan hubunganku ini. Mengapa bisa terjadi? Mengapa tiba-tiba ia menghilang dan memutuskan untuk mengakhiri? Aku periksa ponselku yang memang selalu tidak ada signal dikala aku berada di kampus. Aku mencari dan terus mencari batang demi batang signal yang ku harapkan akan membuahkan sesuatu. Yaa beberapa menit aku mendapatkan signal, seketika diri ini mencari namanya dan berusaha menghubunginya hingga tak sadar sudah puluhan kali ponsel ini menghubunginya namun taka da jawaban apapun darinya. Aku putuskan untuk segera pulang dan mencoba menghubunginya lagi di rumah.

Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, aku sampai pada kamar yang mengisahkan segalanya tentang dia dan tentang hubungan percintaan yang terjadi selama 3 tahun ini. Ku bergegas meraih ponsel dan terus menghubunginya tetap tidak ada jawaban baik darinya hingga ada dering pesan yang berisi bahwa ia tidak ingin ditelfon. Kekuatan kasih sayang dan cinta memang tidak pernah membohongi orang yang mengidapnya, perlahan tetesan air dari kelopak mata jatuh ke lantai secara perlahan dan bibir ini gemetar melihat dinding yang mengisahkan perjalanan semuanya.

BANGSAT! Untuk apa menulis seperti ini? Berharap akan ada perubahan dari hubungan yang sudah tak bernyawa? Masih mengharapkan ia akan kembali dengan tangisan kemudian memelukmu seperti pada waktu pertama ketika diri ini memutuskan hubungan? Jangan berharap terlalu tinggi! Ini bukan hanya soal kasih sayang dan cinta semata, tapi ini soal materi, ini soal persetujuan yang tak mungkin menyatu antara kalian? Sadarlah bahwa dirimu ini sudah dibuang ketika kamu menghampirinya pukul satu malam dan meneteskan air mata di depannya, sungguh perbuatan bodoh yang dilakukan seorang pria, menjatuhkan harga diri demi berjuang akan cinta kasih, perjuangan yang sia-sia ketika kamu menganggap ini soal kasih sayang semata. TIDAK!

Sadarlah bahwa, sudah cukup kau berjuang dalam kemacetan untuk menjemputnya, sudah cukup kau mendapat kemarahan akibat ia menunggu satu jam kedatanganmu untuk menjemputnya? sudah cukup kau merelakan absensi untuk bisa bertemu dengannya, sudah cukup kau tidak makan hanya demi mengumpulkan uang agar bisa mengajaknya pergi ke tempat yang sebenarnya tidak kau suka, sudah cukup kau mendengar cerita dari mulutnya mengenai barang-barang mewah yang ia inginkan, sudah cukup kau berbohong pada temanmu untuk tidak latihan hanya demi bertemu dengannya, sudah cukup kau mencari signal untuk menghubunginya di kampus yang selalu dianggapnya hutan, sudah cukup kau dibilang tukang ojek ketika ia ditelpon oleh orang tuanya, dan mungkin yang terakhir sudah cukup kau dikatakan tidak merindukan dirinya yang jelas-jelas selalu kau pikirkan setiap kali kau melangkah pergi.
Saat ini ia sudah mandiri, ia sudah tak memerlukan tukang ojek, ia sudah menemukan teman yang bisa mendengarkan ceritanya tentang barang-barang mewah yang diinginkannya, ia sudah bisa bepergian kemana pun tanpa harus menggunakan masker dan jaket, ia sudah bebas untuk tidak menunggu selama satu jam demi orang yang tidak penting, dan mungkin yang terakhir ia sudah terbebas dari segala ikatan yang selama ini kau genggam erat.

Selamat tinggal!


Ditulis pada 6/8/15

Minggu, 18 Januari 2015

Cerita dari Pikiran Buntu Tengah Malam - SARAH, Nyonya yang Kelelahan

SARAH, Nyonya Yang Kelelahan
Sebuah perjalanan pastinya akan ada titik dimana perjalanan itu telah selesai, bisa kita analogikan dengan sebuah track lari, jika kita start di kilometer nol maka nantinya kita akan finish di kilometer selanjutnya. Semua itu pasti ada akhirnya, dan untuk menuju akhiran tersebut setiap orang jelas berbeda-beda menggunakan cara yang mereka inginkan. Mungkin saja ada orang yang menjalankannya dengan cepat tanpa halangan atau bahkan sebaliknya, atau bisa pula ada yang berhenti di tengah perjalanan menuju garis finish karena mungkin rasa lelah telah menyelimutinya. Dan untuk akhir dari perjalanan itu sendiri setiap orang jelas memiliki motivasi untuk mengakhiri perjalanannya bagaimana, ada yang bahagia karena memang dlam perjalanananya tidak terlalu mengalami kendala, tapi ada pula yang ditengah perjalanan mengalami kendala namun di akhir ia sangat bahagia dengan apa yabg diperolehnya.

Tapi sudahlah, sudah cukup sesi pembukaan di atas, tak perlu kuberikan penjelasan dan analogi berpanjang lebar seperti novel.

Berbicara tentang lelah, setiap orang pasti merasakan kelelahan di setiap perbuatan yang menurutnya sabgat menguras tenaga. Aku sendiri pun pernah merasakan kelelahan yang teramat sangat, namun jelas konteks nya berbeda dengan berolahraga. Aku merasa lelah, lelah sekali dengan apa yang ku lakukan, bahkan sempat berpikir, untuk apa ku lakukan hal seperti ini, aku mengejar-ngejar hal dan berharap akan sebuah perubahan namun nyatanya sampai detik ini pun perubahan itu tak kunjung terlihat sedikit pun. Ini adalah ceritaku sewaktu bersama (sebut saja Sarah). Sarah adalah gadis yang benar-benar ku dambakan hingga tak ingin sedikitpun aku lewatkan kesempatan bersamanya. Aku dan dia berhubungan cukup lama bahkan hingga timbul pertanyaan untuk apa harus selama itu?.

Setiap kali ada kesempatan untuk bertemu, aku akan coba usahakan semampuku, walaupun aku sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi aku pikir bahwa kesempatan bertemu sepertinya lebih penting dari pada pekerjaan-pekerjaanku. Jika dirasakan, tubuh ini sangatlah lelah, melakukan hal tersebut berulangkali melihat jarak yang tidak bisa dikatakan dekat. Hubunganku dengan Sarah sama sekali tidak ada perubahan dari awal hingga sekarang mengenai orang tua, malah sepertinya kebencian orang tua justru semakin bertambah tingkatannya. Aku terus berharap semua ini akan berubah dan berjalan lebih indah hingga bisa ku tunjukan kebahagiaan itu pada semua orang. Tapi mungkin itu hanya khayalan yang tak akan terjadi.

Aku merasa lelah dengan penantian, aku merasa lelah dengan apa yang kulakukan setiap kali bertemu tanpa ada apresiasi istimewa ketika berpisah, aku lelah bersembunyi di balik pagar atau di balik mobil, dan aku pun terkadang lelah menuruti kemauannya yang mungkin bagiku sangat sulit, aku lelah dipermalukannya di tempat umum dengan caranya yang seperti memegang kendali kendaraan, aku lelah berharap padanya tentang sesuatu yang kuharapkan namun ia tidak pernah mengharapkan, dan aku pun lelah bertindak cepat dan sigap ketika ia tak tau aku sudah berusaha cepat. Banyak kelelahan yang ku rasakan jika semua kelalahan itu ku ungkapkan kepadanya, namun itu sepertinya tidak adil, tak pantas aku mengatakan lelah dihadapan orang yang ku idam-idamkan itu.

Aku pun meminta satu hal kepadanya agar aku merasa rasa lelahku ini hilang dan bisa terlupakan sehingga aku taj perlu merakan kelelahan ini dan itu. Memang, mungkin permintaan itu sejak awal salah, dan mungkin ia sangat tidak suka. Namun menurutku ini berbeda, aku berusaha agar ia bisa melakukannya, aku arahkan dan ku berikan caranya. Namun ternyata ia tak mau. Hati kecilku ini merasa kecewa dengan sikapnya. Namun tak apa, itu sudah biasa, aku seakan terbiasa dengan penolakan terhadap permintaanku. Entah mengapa walau sesungguhnya hati ini merasa benar-benar sedih ketika ia menolaknya.

Aku mencoba melupakan kekecewaan itu dengan berdiam diri, aku mencoba berpikir apa yang harus aku lakukan agar semua ini tidak terulang. Agar semua kembali seperti sedia kala. Namun ia berpikir lain, ia merasa lelah, ia bahkan mengungkapkannya, dan aku yakin bahwa kali ini ia benar-benar lelah. Mungkin memang permintaanku konyol, tapi ku rasa itu bisa ia lakukan jika ia mau mencobanya.
Ia mengungkapkan kelelahannya itu seperti lelah yang sudah pada tingkat tertinggi. Ya mungkin memang aku yang salah, aku salah membuatnya lelah, aku salah tidak menuruti apa yang ia mau.


Perjalanan pun terputus di tengah track, mereka berdua berdiam tanpa saling sapa, terus begitu hingga waktu yabg tak dapat ditentukan. Entahlah perjalananini harus berkahir di garis finish dengan perasaan yang gembira atau sebaliknya.


Cerita di atas adalah tentang tokoh Tuan dan Nyonya (sebut saja Sarah)

Kamis, 11 Desember 2014

Coretan Tengah Malam - TUAN DAN NYONYA

TUAN DAN NYONYA

Hari ini 11 Desember 2014, nampaknya terlihat jelas bahwa perubahan dari Tuan dan Nyonya sudah sangat riskan untuk mengalami perpecahan yang cukup serius. Tiga tahun yang lalu, semua tak seperti hari ini, keduanya tak pernah mengeluarkan emosi secara bersamaan, berbeda dengan hari ini ketika si Tuan mengungkapkan rasa kecewanya dengan emosi yang hampir saja meladak namun masih terkontrol, ternyata dibalas pula oleh si Nyonya dengan emosi yang lebih besar.

Siang ini nampak sangat terik, namun tak bisa dipungkiri bahwa semangat si Tuan ini tak ada yang bisa membendungnya, semangat untuk bertemu dengan Nyonya yang memiliki mahkota indah di kepalanya, semangat yang ia rasakan sejak dulu atas kerinduannya terhadap si Nyonya. Tepat pukul 12 siang, si Tuan keluar dari ruangan, namun ia ingat sesuatu sebelum ia meluncur dengan kuda besinya menemui si Nyonya. Si Tuan ingat bahwa hari ini ia harus mengurus berkas untuk mendapatkan tanda tangan dari orang-orang penting untuk keperluannya di masa depan mengenai kesempatan yang semua orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya (RED:Beasiswa).

Jarum jam terus berjalan sesuai iramanya, sementara untuk mengurus berkas-berkas ini tak bisa dengan waktu yang singkat. Ia kemudian mencari bantuan kepada salah satu orang yang ia kenal untuk menitipkan berkas-berkas tersebut. Tak enak hati memang ketika semua itu adalah untuk dirinya sendiri sementara yang mengurus adalah orang lain. Ucapan terima kasih yang tulus ia berikan kepada orang yang telah mau membantunya.

Jam di ponselnya kini sudah menunjukkan pukul 12:20, ini saatnya si Tuan harus bergegas menuju kuda besinya untuk menemui sang Nyonya, memang perjanjian tadi malam, ia harus berangkat pukul 12:30, namun tak ada salahnya jika ia datang lebih dulu. Yaa.. mungkin ini karena semangat untuk bertemu sudah sangat melonjak-lonjak sehingga makan siang pun tak luput dilupakannya, menurutnya akan lebih indah jika ia bisa makan siang bersamaan dengan si Nyonya dengan tatapan manis si Nyonya, dengan senyuman si Nyonya yang tak bisa dilupakan itu membuat ia semakin semangat menuju lokasi yang telah disepakati.

Entah mengapa, dalam perjalanan kuda besi yang ia tumpangi serasa berlari sangat cepat tak seperti biasanya. Dalam benaknya selalu terngiang sosok si Nyonya yang selalu ia dambakan itu, sosok yang sulit untuk dilupakan atau bahkan tak akan bisa dilupakan. Di tengah perjalanan, Tuan menepi ke sebuah pengisian bahan bakar untuk buang air kecil dan sekaligus mengganti baju, maklum yang akan ia temui nanti adalah seorang wanita yang selalu diidam-idamkannya. Tak lama ia berganti dan rapi dengan segalanya, ia lantas mengecek ponsel untuk mengabarkan keberadaan si Nyonya yang tadi malam ia akan menunggu di lokasi yang sudah ditentukan. Namun ternyata, semua salah, terjadi perubahan nampaknya dalam perjanjian yang sudah disepakati tadi malam. Baiklah bisa dimaklumi walaupun kekecewaan terus menyelimuti hati si Tuan, lantas keduanya menyusun rencana ulang namun dengan sedikit emosi, Tuan nampaknya tak bisa menyembunyikan emosinya atas perubahan rencana yang dilakukan si Nyonya. Tapi itu bisa diterima sebab Nyonya menjelaskan semuanya dengan baik walau pun ada rasa emosi juga yang muncul.

Rencana kedua pun berjalan, si Tuan terus menunggu kabar menggembirakan dari si Nyonya, namun ternyata dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang, dan Nyonya pun mengabarkan bahwa ada sedikit kendala, sedikit hambatan, sebuah antrean yang membuat si Tuan semakin emosi dibuatnya. Pertemuan ini semakin tidak efektif nampaknya jika dilanjutkan sebab waktu telah berbicara tentang keadaan yang ada, perjanjiannya adalah pukul 3 siang mereka harus sudah duduk manis dengan dihadapkannya sebuah layar lebar yang sedang memutarkan sebuah tayangan film (RED: Bioskop).

Si Tuan semakin emosi dengan keadaan yang ada, ia pun memutuskan untuk membatalkan pertemuan ini karena dikiranya bahwa akan berantakan jika pertemuan langka ini tetap diteruskan. Namun semua itu sangat disayangkan ketika si Nyonya membalas pernyataan si Tuan dengan emosi yang meledak juga. Emosi bertemu dengan emosi, maka tak aka nada yang padam. Pertengkaran pun muncul, si Tuan berharap bahwa apa yang ia lakukan hari ini bisa dihargai oleh si Nyonya, sebab tak mudah bagi si Tuan untuk meluncur dari ujung Timur ke ujung Barat, bahkan melebihi ujung barat. Kerinduan yang dirsakan keduanya seakan luntur, seakan sudah tak dirasakannya lagi. Namun harapan si Tuan adalah ketika dirinya emosi tolong jangan dibalas dengan emosi pula, mungkin si nyonya lupa akan hal itu, lupa bahwa sejak tiga tahun yang lalu si Tuan sangat tidak suka bahkan kecewa jika ia sedang emosi namun dibalas dengan emosi pula. Si Tuan pun heran dengan apa yang terjadi pada si Nyonya yang sudah tiga tahun bersamanya ini, si Nyonya seakan berubah, berubah dari yang tadinya lembut dan penurut menjadi emosional. Nyonya yang dulu sangat manja dan lembut sekarang menjadi keras kepala dengan tuntutan-tuntutan yang selalu ingin diwujudkannya itu. Entahlah mungkin pergaulan yang membuatnya seperti itu, mungkin juga karena jarangnya terjadi pertemuan antara si Nyonya dan Tuan seperti tiga tahun yang lalu.

Tuan semakin merindu, tuan semakin rindu akan sosok Nyonya pada tiga tahun yang lalu, yang selalu menyejukkan hatinya. Bukan sosok Nyonya yang sekarang. Hari ini Tuan tetap berharap kepada Nyonya akan kelembutan hatinya yang dulu. Ia berharap bahwa api jangan dibalas dengan api pula sebab jika itu terus terjadi maka kobaran api akan semakin besar, dan kobaran tersebut akan menghancurkan segalanya.

Barat Jakarta, Desember 2014

Rabu, 12 November 2014

Coretan Tengah Malam - Anak Awan yang Tenggelam

Anak Awan yang Tenggelam
Oleh Ahmad Zaelani


Malam kembali hadir bersama orang-orang yang terus bahagia akan datangnya gemerlap cahaya lampu yang menyinari sudut-sudut ruang. suara angin yang menampar daun ikut menemani malam yang seiring berjalannya waktu kian berubah menjadi dingin yang dapat menusuk tulang rusuk. Atau bahkan malam akan berubah menjadi beku, termasuk orang-orang disekitarnya ikut meramaikan malam.

Lihatlah, sekelompok orang datang dengan raut wajah yang berbeda-beda, ada yang senyum ceria yang menggambarkan kenyamanan dimana ia berada. Tapi ada salah satu orang yang entah mengapa raut wajahnya berbeda, tidak ceria, tidak tertawa bersama yang lain, seolah ingin memisahkan diri dari tempat ia berada. Ia berjalan pelan, dengan kepala dan pandangan tertunduk, kepalanya seakan sadang menahan benda berat diatas kepalanya.

Tunggu dulu...


Mengapa ia seperti itu? Bukankah ia adalah orang yang paling bersemangat di tiap harinya?

Dirinya seolah mengikuti suasana awan yang gelap namun enggan meneteskan tetesan-tetesan kerinduan. Pandangannya seperti kosong, tapi dari raut wajahnya terlihat ada sesuatu yang sedang ia pikirkan begitu dalam.

Baiklah tuan, mari kita amati orang yang sedang mengikuti kondisi awan.
Sampailah mereka di tempat yang berbeda dari biasanya. Tempat yang tidak seharusnya sekelompok orang ini berada.

Memang kali ini tempatnya bagus, terang, dan bersih, serta ada dinding kaca yang memantulkan apa yang kita lakukan.

Seorang bertubuh besar kemudian menghampirinya, ya dia adalah tetua di kelompok itu. Tampak si tetua cukup panik dengan keadaan yang ada dan mencoba menjelaskannya pada si orang itu. Tak lain dan tak bukan, si tetua ternyata memberikan amanah pada anak awan ini (Red: orang yang menundukan kepala mengikuti kondisi awan).
Sang anak awan segera melaksanakan apa yang diinginkan si tetua. Dengan awak yang tak begitu besar seperti tetua, ia berusaha menjalankan amanah yang diberikan dengan keyakinan dan harapan yang besar. Tepukan tangan sekali dua kali hingga tiga kali dibunyikan olehnya untuk mengkondisikan segala sesuatunya.


TAK ADA RESPON . . .
Tak ada jawaban 'iya',
Tak ada jawaban 'oke',
Tak ada jawaban 'siap',
Yang ada hanyalah keacuhan dari mereka kepada si anak awan.
Sekali dua kali hingga tiga kali ia lakukan seperti itu,

Tapi . . .
Jawabannya sama!


Baiklah mungkin ini memang yang pantas didapatkan oleh si anak awan karena tak memiliki sesuatu hal yag spesial, dan memang tak ada yang dapat dibanggakan dari dirinya, ia adalah orang yang tiap hari mengikuti kondisi alam dan menikmati apa yang sedang terjadi tanpa memprotes ketidaknyamanan yang dialami.

Suaranya kian mengecil, redup bahkan tenggelam oleh ocehan orang-orang busuk yang tak mendengar tepukan dan teriakan halusnya. Ia berusaha lagi dan lagi, namun ...
Hatinya merasa lelah dengan kondisi seperti ini, hingga ada satu pionir yang bersuara kemudian barulah mereka mendengarkan dan mengikuti ocehan orang itu, bukan si anak awan.

Baiklah tuan dan puan sekalian, sudah bisa kita terka mengapa si anak awan ini terus menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan menuju tempat berdinding kaca yang berpantul. Hatinya tak sanggup akan kondisi ini, suaranya kian tenggelam tanpa ada sambutan hangat dari orang-orang busuk di dalamnya. Ia merasa tak ada arti sedikitpun kata-kata yang ia keluarkan. Perkataannya tenggelam atau bahkan sengaja ditenggelamkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Dan ya satu lagi, satu hal mengapa ia terus menundukkan kepalanya mengikuti kondisi alam, memang benar ia menundukkan kepalanya karena suara kecilnya kian tenggelam, tapi coba lihat, ada yang janggal dari kelompok ini.

Lihatlah ini tak lengkap, ada yang kosong, tak ada garis senyum semangat disini.
Ah sudahlah tuan, sudah kiranya terjawab mengapa si anak awan mengikuti awan gelap dan angin dingin di malam yang gemerlap. Dua hal, ya dua hal yang menenggelamkan ia di dasar kebusukan.


Jakarta, 12 Novemer 2014
@ajhezae

Selasa, 11 November 2014

Coretan Tengah Malam - Pesan yang Membingungkan

Pesan yang Membingungkan
Oleh Ahmad Zaelani



Malam ini, setelah diriku sampai di rumah dengan tubuh yang letih, aku coba kuatkan diri dan mataku untuk mengambil sebuah buku tugas yang masih menumpuk diatas meja.

Dengan tubuh yang masih diaelimuti angin malam yang dingin, ku kuatkan tekad untuk mencoba memulai menulis apa yang harus ku tulis dalam buku tugas. Tapi tak berselang lama, mata ini serasa akan menutup gerbang keindahan dunia secara perlahan.

Apa yang terjadi???

Maaf tuan, diriku benar-benar terlelap sejenak, tapi ada satu pertanyaan penting, mengapa aku bisa terbangun padahal aku terlelap begitu saja sebelumnya.

Perlahan ku sadarkan diri dan ku sandarkan diriku di tembok ruangan yang lusuh ini. Aku penasaran mengapa diriku tertidur kemudian terjaga secara mengejutkan.
Ku coba mengecek ponsel ku, dan .....

Ooh tuhan, ada bgtu banyak pesan dan jutaan pertanyaan yang dikirimkan oleh seorang gadis.
Ya gadis yang mungkin datang ke tempat ini untuk memvaca tulisan ini, entah mengapa ia terus membaca tulisan ini dan bahkan sampai selesai.

Aneh...


Tapi, mengapa ia mengirimkan pesan dengan pertanyaan yang begitu banyak kepadaku? Apakah itu penting?

Ku baca pesan demi pesan, pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan dari gadis itu, ku baca perlahan dan terus ku pahami apa maksud dari gadi itu, pertanyaan yang membingungkan menurutku.

Ku balas dengan sigap, karena aku pun buh kejelasan tentang hal itu semua.
Dan ternyata, hahahahahahahahahahahhh
Gadis yang lucu, ia menganggap bahwa apa yang kubicarakan disini adalah sebuah..........

Sudahlah.
Mari kita akhiri saja malam ini dengan kesalahpahaman dan ketidaktahuan akan cerita.


Jakarta, 11 November 2014