Rabu, 12 November 2014

Coretan Tengah Malam - Anak Awan yang Tenggelam

Anak Awan yang Tenggelam
Oleh Ahmad Zaelani


Malam kembali hadir bersama orang-orang yang terus bahagia akan datangnya gemerlap cahaya lampu yang menyinari sudut-sudut ruang. suara angin yang menampar daun ikut menemani malam yang seiring berjalannya waktu kian berubah menjadi dingin yang dapat menusuk tulang rusuk. Atau bahkan malam akan berubah menjadi beku, termasuk orang-orang disekitarnya ikut meramaikan malam.

Lihatlah, sekelompok orang datang dengan raut wajah yang berbeda-beda, ada yang senyum ceria yang menggambarkan kenyamanan dimana ia berada. Tapi ada salah satu orang yang entah mengapa raut wajahnya berbeda, tidak ceria, tidak tertawa bersama yang lain, seolah ingin memisahkan diri dari tempat ia berada. Ia berjalan pelan, dengan kepala dan pandangan tertunduk, kepalanya seakan sadang menahan benda berat diatas kepalanya.

Tunggu dulu...


Mengapa ia seperti itu? Bukankah ia adalah orang yang paling bersemangat di tiap harinya?

Dirinya seolah mengikuti suasana awan yang gelap namun enggan meneteskan tetesan-tetesan kerinduan. Pandangannya seperti kosong, tapi dari raut wajahnya terlihat ada sesuatu yang sedang ia pikirkan begitu dalam.

Baiklah tuan, mari kita amati orang yang sedang mengikuti kondisi awan.
Sampailah mereka di tempat yang berbeda dari biasanya. Tempat yang tidak seharusnya sekelompok orang ini berada.

Memang kali ini tempatnya bagus, terang, dan bersih, serta ada dinding kaca yang memantulkan apa yang kita lakukan.

Seorang bertubuh besar kemudian menghampirinya, ya dia adalah tetua di kelompok itu. Tampak si tetua cukup panik dengan keadaan yang ada dan mencoba menjelaskannya pada si orang itu. Tak lain dan tak bukan, si tetua ternyata memberikan amanah pada anak awan ini (Red: orang yang menundukan kepala mengikuti kondisi awan).
Sang anak awan segera melaksanakan apa yang diinginkan si tetua. Dengan awak yang tak begitu besar seperti tetua, ia berusaha menjalankan amanah yang diberikan dengan keyakinan dan harapan yang besar. Tepukan tangan sekali dua kali hingga tiga kali dibunyikan olehnya untuk mengkondisikan segala sesuatunya.


TAK ADA RESPON . . .
Tak ada jawaban 'iya',
Tak ada jawaban 'oke',
Tak ada jawaban 'siap',
Yang ada hanyalah keacuhan dari mereka kepada si anak awan.
Sekali dua kali hingga tiga kali ia lakukan seperti itu,

Tapi . . .
Jawabannya sama!


Baiklah mungkin ini memang yang pantas didapatkan oleh si anak awan karena tak memiliki sesuatu hal yag spesial, dan memang tak ada yang dapat dibanggakan dari dirinya, ia adalah orang yang tiap hari mengikuti kondisi alam dan menikmati apa yang sedang terjadi tanpa memprotes ketidaknyamanan yang dialami.

Suaranya kian mengecil, redup bahkan tenggelam oleh ocehan orang-orang busuk yang tak mendengar tepukan dan teriakan halusnya. Ia berusaha lagi dan lagi, namun ...
Hatinya merasa lelah dengan kondisi seperti ini, hingga ada satu pionir yang bersuara kemudian barulah mereka mendengarkan dan mengikuti ocehan orang itu, bukan si anak awan.

Baiklah tuan dan puan sekalian, sudah bisa kita terka mengapa si anak awan ini terus menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan menuju tempat berdinding kaca yang berpantul. Hatinya tak sanggup akan kondisi ini, suaranya kian tenggelam tanpa ada sambutan hangat dari orang-orang busuk di dalamnya. Ia merasa tak ada arti sedikitpun kata-kata yang ia keluarkan. Perkataannya tenggelam atau bahkan sengaja ditenggelamkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Dan ya satu lagi, satu hal mengapa ia terus menundukkan kepalanya mengikuti kondisi alam, memang benar ia menundukkan kepalanya karena suara kecilnya kian tenggelam, tapi coba lihat, ada yang janggal dari kelompok ini.

Lihatlah ini tak lengkap, ada yang kosong, tak ada garis senyum semangat disini.
Ah sudahlah tuan, sudah kiranya terjawab mengapa si anak awan mengikuti awan gelap dan angin dingin di malam yang gemerlap. Dua hal, ya dua hal yang menenggelamkan ia di dasar kebusukan.


Jakarta, 12 Novemer 2014
@ajhezae

Selasa, 11 November 2014

Coretan Tengah Malam - Pesan yang Membingungkan

Pesan yang Membingungkan
Oleh Ahmad Zaelani



Malam ini, setelah diriku sampai di rumah dengan tubuh yang letih, aku coba kuatkan diri dan mataku untuk mengambil sebuah buku tugas yang masih menumpuk diatas meja.

Dengan tubuh yang masih diaelimuti angin malam yang dingin, ku kuatkan tekad untuk mencoba memulai menulis apa yang harus ku tulis dalam buku tugas. Tapi tak berselang lama, mata ini serasa akan menutup gerbang keindahan dunia secara perlahan.

Apa yang terjadi???

Maaf tuan, diriku benar-benar terlelap sejenak, tapi ada satu pertanyaan penting, mengapa aku bisa terbangun padahal aku terlelap begitu saja sebelumnya.

Perlahan ku sadarkan diri dan ku sandarkan diriku di tembok ruangan yang lusuh ini. Aku penasaran mengapa diriku tertidur kemudian terjaga secara mengejutkan.
Ku coba mengecek ponsel ku, dan .....

Ooh tuhan, ada bgtu banyak pesan dan jutaan pertanyaan yang dikirimkan oleh seorang gadis.
Ya gadis yang mungkin datang ke tempat ini untuk memvaca tulisan ini, entah mengapa ia terus membaca tulisan ini dan bahkan sampai selesai.

Aneh...


Tapi, mengapa ia mengirimkan pesan dengan pertanyaan yang begitu banyak kepadaku? Apakah itu penting?

Ku baca pesan demi pesan, pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan dari gadis itu, ku baca perlahan dan terus ku pahami apa maksud dari gadi itu, pertanyaan yang membingungkan menurutku.

Ku balas dengan sigap, karena aku pun buh kejelasan tentang hal itu semua.
Dan ternyata, hahahahahahahahahahahhh
Gadis yang lucu, ia menganggap bahwa apa yang kubicarakan disini adalah sebuah..........

Sudahlah.
Mari kita akhiri saja malam ini dengan kesalahpahaman dan ketidaktahuan akan cerita.


Jakarta, 11 November 2014

Minggu, 09 November 2014

Coretan Pagi di Rawamangun

Sini Pindah ke Sampingku
Oleh Ahmad Zaelani


Pagi itu di akhir pekan ketika orang lain sudah bersantai di rumah berkumpul dengan keluarganya, aku harus sudah terjaga di pagi hari.

Hei bodoh untuk apa kau bersiap diri di akhir pekan?

Bisikan itu kerap kali berkeliaran dipikiranku ketika aku harus datang ke sebuah acara di akhir pekan yang sejatinya digunakan untuk bersantai.

Dengan penuh keyakinan aku terua bersiap dengan memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan. Pilihankan jatuh pada kemeja batik lengan pendek, yang sepertinya memang sangat pas dikenakan.

Dalam perjalanan pikiranku hanya pada acara yang akdan ku hadiri ini, mengingat ini adalah acara temanku sendiri. Tak ada salahnya jika ku merajinkan diriku untuk bergegas keluar ke sebuah acara di akhir pekan, toh acaranya juga bermanfaat.

Sampai di lokasi...

Sepi, parkiran yang biasanya dipenuhi kuda besi pun terlihat longgar, tak sepadat hari biasanya. Andai setiap hari bisa seperti ini...

Ahh mustahil, sudahlah. Sudah telat ayo bergegas nak ....

Nampaknya pikiran malaikat terus menyemangati batin ini.

Saat ku berjalan, ku lihat seorang gadis yang tak asing bagiku. Dia adalah ....
Yaa dia adalah sahabat gadis yang pernah membaca di tempat ini (RED: Coretan Pikiran). Tapi mengapa dia ada disini? Dan mengapa sendiri??

Aah sudahlah mengapa harus dipersoalkan.

Aku duduk bersebelahan di acara yang sama dengannya, tak ada yang istimewa dari kami. Ku ikuti rangkaian demi rangkaian acara yang ada, hingga di tengah-tengah acara...

"Ehhh..."

Ada tepukan mendarat di pundakku dari belakang. dan ternyata itu dia, ya dia, iyaa kamu. Kamu yang mungkin nanti baca ini.

Dia masih duduk di belakangku hingga waktu yang cukup lama, aku pun berpikir bagaimana caranya agar dia bisa duduk di sebelahku.

Hmmmm ...


Aku masih mencari-cari cara...


Terus seperti itu hingga akhirnya, ia berkata..

"Awas dong ga keliatan!"

Huppp!!

Tuhan memang selalu memberi jalan bagi orang yang berusaha rupanya, termasuk aku yang sedari tadi berusaha memikirkan bagaimana cara agar dia bisa di sampingku.
Aku pun membalas perkataannya...

"Makanya disini (menunjuk bangku kosong di sebelah kiriku) biar bisa terlihat jelas"
Aku berharap ada keajaiban dari perkataanku tadi, dan ternyata ....
Ia benar-benar pindah tempat duduk jadi tepat di sebalah kiriku. Melihat garis senyumnya membuat acara yang kuhadiri semakin luar biasa.


Rawamangun, 8 November 2014

Coretan Malam - Pesan Yang Bergantung

Pesan yang Bergantung
Oleh Ahmad Zaelani


Suatu malam ketika ku sampai di dalam ruanganku yang tak terurus, ponselku berdering, bukan karena ada yang menelpon, tp suara pesan masuk tiba-tiba mengejutkanku.
Aku sedang lelah saat itu, dan diriku berpikir bahwa pesan itu mungkin dari orang yang biasa berbalas pesan denganku, maka dari itu sejenak aku letakkan ponsel di atas meja tanpa peduli siapa yang mengirim dan apa isi pesannya.

Air dalam kamar mandi begitu menyejukan, bagai air terjun yang jatuh dari ketinggian yang begitu menjulang. Tubuh ini serasa habis berjalan di padang pasir yang tak bertemu sejuknya air sedikitpun.

Rasa lelah sedikit berkurang setalah ku guyur tubuhku ...
Seketika ku duduk di kursi kerjaku sambil mengusap rambut dengan handuk, tiba-tiba aku teringat ponselku yang berdering tadi. Ku tengoklah secara perlahan dan ...


Mengapa???
Ya mengapa???
Ada apaa???

Itu adalah pertanyaan yang muncul ketika ku baca sebuah pesan singkat yang ternyata itu adalah dari...

Ah sudahlah, mungkin ini hanya pesan biasa yang sewajarnya ditanyakan kepadaku.

Tapii...

Mengapa nurani ini berkata beda?
Seperti ada tujuan lain dibalik pesan yang disampaikan itu.

Ya sudah, ku balas saja apa adanya pesan dari orang yang mungkin membaca tulisan ini ...
Jarum jam menunjukkan pukul 12 malam lewat, tanda hari sudah berganti. Dan pesanku ini bergantung ditengah-tengah obrolan manis tentang dirinya.

*pesan masih dalam keadaan 'D' dalam layar ponsel hingga pagi hari*
Huhhh ...

Pesanku tak terbalas nampaknya.


Cengkareng, 6 November 2014

Coretan Sore Hari di Rawamangun

Jangan Dibaca, Karena Ini Tentang Dirimu !

Sore itu tak tampak sinar matahari yang ingin terbenam seperti biasanya. Tak seperti biasanya angin pun ikut tak kunjung menghembuskan dedaunan di sekitar kampus.
Baiklah mungkin itu adalah tanda bahwa mereka sedang tidak bersemangat menyambut datangnya malam.

Ku langkahkan kaki melewati dedaunan kering yang jatuh di tanah bukan karena hembusan angin kencang tapi karena daun-daun itu tak lagi kuat bergelantung di dahannya.

Di sudut bangunan, tepat di samping trotoar tempat kami berkumpul, masih sepi dan tak ada keributan dan celotehan seperti biasanya. Mungkin ini karena aku datang terlalu cepat ke tempat itu sehingga tak ada keramaian, tapi ternyata tidak! Ketika ku lihat ponselku jam menunjukkan waktu yang sudah lewat dari semestinya.

Baiklah, ku teruskan melangkah dan berharap ada seseorang disana.

Oh tuhan harapanku kau kabulkan dengan begitu cepat, ada seseorang sedang memainkan seikat tali di dekat trotoar itu rupanya. Memang terlihat sunyi tak seperti biasanya, tapi ku rasa ini adalah semangat yang tak mungkin orang lain miliki dari gadis itu. Tapi tunggu,, mengapa diriku menjadi kagum akan dirinya? Ada apa ini?

Sudahlah, tak perlu dipermasalahkan soal kekaguman, selayaknya memang dirinya sudah pantas untuk dikagumi.
Dirinya memang membawa aura tersendiri terutama soal semangat, tapi siapakah dia?
Jawabannya adalah orang yang mungkin membaca tulisan ini.

Jakarta, 7 November 2014

Senin, 29 April 2013

Kasih Yang Tercapai - Part 2



berikut adalah lanjutan dari cerita "Kasih Yang Tercapai" sebelumnya.. mari disimak baik-baik kelanjutan kisahnya, selamat membaca ..


Kasih Yang Tercapai - PART 2

                Suasana malam yang sangat sepi, angin yang berhembus kencang terasa sampai kedalam tubuhku dan mencoba menusuk tulang-tulangku. Di suasana yang seperti itu tiba-tiba lewatlah sebuah mobil yang ternyata di dalamnya adalah Mas Panji Wijaya, ia berhenti dan keluar dari dalam mobilnya.
                “hey kamu masih nunggu angkutan ya?” Tanya Mas Panji,
                “iya mas, aku nunggu angkutan yang biasa” jawabku
“ini sudah hampir tengah malam Ren, angkutan sudah jarang ada yang lewat sini, sudah lebih baik kamu bareng dengan saya ya..” jelasnya membujukku agar ikut dengannya.
“baiklah pak kalu begitu, maaf yaa ngerepotin” sahutku dan menerima tawarannya.
Sepanjang perjalanan ternyata aku tertidur pulas, aku terbangun ketika sudah sampai di depan rumah.
                “Ren.. Rena… bangun Ren sudah sampai nih..” katanya dan  membangunkanku
Aku terkejut ketika Mas Panji membangunkanku. “iii iyaa Mas, maaf sepanjang perjalanan aku tertidur.” Kataku
“iya tidak apa-apa, pasti kamu lelah sekali, sana masuk terusin tidurnya di dalam.” Jawabnya dan menyuruhku meneruskan tidur.
“iya Mas, makasih ya atas tumpangannya” kataku dengan senang hati
“iya sama-sama koq Ren, sana masuk, besok jangan sampai telat yaa” pintanya.
Aku pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah sambil membawa berbagai naskah yang belum selesai diedit.
Keesokan harinya aku kembali bekerja di depan meja kerjaku dan seperti biasa beragam naskah sedang menunggu untuk diedit. Namun ketikaku sedang asik mengedit naskah tiba-tiba datang Mba Sinta dengan muka yang seperti biasa selalu mencekam.
“hehh Ren, nih ada naskah silahkan kamu edit yang bener” pintanya sambil melempar setumpuk naskah ke mejaku.
“baik Mba, nanti akan saya kerjakan” jawabku dengan terkejut.
Ketika malam hari Rena kembali pulang dan membawa pekerjaannya ke rumah. Udara malam yang dingin ditambah turunnya hujan membuat suasana menjadi sangat dingin. Aku pun bergegas untuk pulang, aku berjalan seperti biasa sambil menunggu angkutan yang lewat. Namun tak berapa lama aku menunggu tiba-tiba ada seorang dengan mengendarai sepeda motor yang cukup besar berhenti di depan ku, dan ternyata ia adalah Ryan.
                “heyy, Rena? Ngapain kamu disini hujan-hujan” sahut Ryan
“ehh Ryan, iya ini aku Rena, biasa aku lagi nunggu angkutan, kan aku sekarang sudah kerja.” Jawabku dengan tersenyum melihat wajahnya
“oh jadi sekarang kamu kerja di Era Com? Wah hebat dong bisa kerja di perusahaan terkenal”
“ya sudah Ren mending kamu bareng aku yuk, nih aku bawa jas hujan 2 koq, ok” tanyanya dengan sedikit bercanda
                “iya  yan makasih yah” jawabku dengan senang hati

Tanpa disadari dari kejauhan ternyata Panji memperhatikan Rena yang sedang menunggu angkutan sambil membawa begitu banyak naskah untuk diedit dirumahnya. Ia terus memperhatikan karyawan barunya itu yang setiap hari selalumembawa pekerjaannya kerumah. Terlintas di benaknya sebuah pertanyaan mengapa ia selalu membawa begitu banyak naskah? Apa yang sebenarnya terjadi pada Rena?.

Hari berikutnya, Panji yang kemarin memperhatikan Rena membawa begitu banyak naskah untuk diedit, mencoba menyelidiki semua ini. Ia coba mendatangi meja kerja Rena di pagi hari sebelum Rena sampai ke kantor. dan Panji pun melihat ada sesuatu yang aneh, terlihat beberapa naskah yang sedang diedit oleh Rena namun ternyata naskah-naskah tersebut adalah naskah yang novelnya sudah diterbitkan. Sontak ini membuat Panji terkejut mengapa Rena sampai mengerjakan tersebut dan siapa yang memintanya mengerjakan semua ini. Tak berpikir panjang, Panji langsung bertanya kepada pengawas editor, ternyata yang menyuruh Rena mengerjakan semua ini adalah Sinta, pimpinan perusahaan disini. Lantas Panji pun mendatangi Sinta dan menanyakan apakah benar apa yang dikatakan pengawas editor tersebut dan ternyata “Iya” Sinta mengaku bahwa yang menyuruh Rena mengedit naskah-naskah tersebut adalah dia.
“Sinta, jawab pertanyaanku, mengapa kamu melakukan semua ini kepada Rena?” Tanya Panji
“iya karena aku tidak suka dengan anak itu, aku tidak suka dengan pegawai kesayanganmu itu, ngerti” jawab Sinta dengan kesal.
“untuk apa kamu melakukan ini? Apa salah Rena?” Tanya Panji
“ingat ya, aku ini pewaris tunggal dan pemilik saham 100% di perusahaan ini jadi siapa saja yang berani macam-macam samaku maka tak segan-segan aku akan memecatnya, dan dia sudah berani mendekati tunanganku” Jelas Sinta.
“ok Sinta, aku dan Rena itu tidak ada apa-apa, kita berdua hanyalah rekan kerja, aku bos dan dia pegawaiku, paham” kataku mencoba menenangkan Sinta.
“sudahlah….” Jawab Sinta dan terus meninggalkan Panji.

Malam berikutnya ketika aku pulang dari kerja dan membawa berbagai naskah untuk diedit ternyata Mas Panji mengikutiku dari belakang dan ketika aku sampai di rumah dan turun dari ojek yang ku tumpangi, tiba-tiba Mas Panji menghampiriku.
                “Rena… .” panggil Mas Panji
                “eeee.. Mas Panji? Koq bisa ada disini? mau apa?” tanyaku dengan heran.
                “gini Ren, mulai sekarang tinggalkan semua naskah yang kau bawa itu” pinta Mas Panji
                “loh kenapa Mas? Ini kan pekerjaanku?” Tanyaku tambah heran
“iya Ren, jadi semua naskah yang kamu kerjakan itu sebenarnya sudah diterbitkan, ya anggap saja semua ini adalah proses penyesuaian diri terhadap pekerjaanmu ok” jelas Mas Panji mencoba menutupi yang sebenarnya terjadi
“oohh jadi ini semua sebenarnya rekayasa?” sahutku
“iya benar, jadi mulai besok kamu mulai dengan pekerjaan yang sebenarnya” pinta mas Panji
“baiklah Mas kalau begitu” jawabku

Keesokan harinya seperti biasa pagi yang cerah menyambutku dengan ceria. Pagi hari ketika ku sudah berada di meja kerjaku, Mas Panji menghampiriku dan memberikan sebuah naskah baru yang harus diedit.
“Ren, ini ada naskah baru yang harus kamu edit, tolong dikerjakan ya, paling lambat 3 hari” pintanya dengan penuh senyum
“ohh iya Mas, kali ini naskahnya benar-benar baru kan?” tanyaku
“iya Ren, yang ini baru” jawabnya meyakinkan.

Semakin hari seiring berjalannya waktu hubungan Mas Panji denganku menjadi semakin dekat. Entah apa maksudnya dengan kedekatan semua ini, tetapi semua ini ku anggap hanya sebatas rekan kerja. Namun dengan kedekatanku dan Mas Panji, Mba Sinta semakin benci denganku, dia berusaha mengeluarkanku dari kantor hingga suatu hari aku dipanggil ke dalam ruangannya.
“Ren, dipanggil Mba Sinta tuh di ruangannya.” Pinta salah satu pegawai disana
“oh iya makasih ya.” Jawabku
“toktoktoookk….” Suara pintu ke ketok
“ya masuk.” Jawab Mba Sinta dari dalam ruangan
“maaf Mba, ada apa ya Mba manggil saya kesini.” Tanyaku bingung
“nih surat pemecatan anda.” Jawabnya dengan ketus sambil menyerahkan sebuah surat.
“maksudnya apa Mba? Apa salah saya?” tanyaku dengan sangat heran.
“sudah, mulai sekarang jangan pernah datang lagi ke kantor ini.” Pintanya
“tapi atas dasar apa Mba Sinta memecat saya.” Tanyaku lagi
“ingat ya saya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini, 100%. Ingat itu!! Jadi saya berhak untuk memecat siapa saja di perusahaan ini.” Jelasnya dengan sangat emosi
“ok saya terima, tapi ingat Mba saya bisa melaporkan anda ke Depnagker atas pemecatan tanpa alas an yang jelas seperti ini.” Jawabku yang ikut emosi sambil mengancam
“silahkan saja kalu anda mau melaporkan saya.” Tantangnya dengan penuh percaya diri

Aku pun langsung meninggalkan ruangan itu dan kembali ke meja kerja untuk membereskan semua peralatan kerja yang ada. Aku segera meninggalkan kantor itu, namun ketika ku membereskan mejaku, datang Mas Panji yang milahat ku dari kejauhan.
“Rena.. kamu kenapa ren? Apa yang sedang terjadi?.” Sahutnya dan bertanya kepadaku
Aku tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Mas Panji. Aku langsung berlari keluar kantor dan meninggalkan Mas Panji. Namun Mas Panji mengejarku dan menahanku pergi di depan kantor.
“Rena tunggu Rena, jawab aku, apa yang telah terjadi?.” Tanyanya
Lariku terhenti karena tarikannya.
“harusnya sebagai bos kamu tahu apa yang terjadi di dalam kantor ini, tanyakan saja semua kepada Mba Sinta apa yang terjadi!!.” Jawabku dengan sangat kesal
“apa Mba Sinta? Apa yang dilakukannya terhadapmu Ren?.” Tanyanya lagi.
“sudahlah Mas, kamu tanyakan saja padanya.” Jawabku dan langsung meninggalkan kantor dan Mas Panji.

Hari itu juga Mas Panji menemui Mba Sinta saat makan siang di sebuah restoran untuk membicarakan apa yang terjadi terhadap Rena sampai ia meninggalkan kantor seperti itu.
“Sinta, jawab pertanyaanku, mengapa tadi pagi Rena keluar dari kantor dan membereskan semua peralalatan kerjanya?.” Tanya Mas panji dengan Kesal
“aku telah memecatnya sebagai pegawai di kantor ini, kenapa?.” Jelas Mba Sinta dan bertanya balik
“apa? Atas dasar apa kamu memecatnya?.” Tanya Mas Panji
“inget Panji, aku ini pemilik saham terbesar di perusahaan ini, jadi terserah aku kalau aku memecat Rena dari perusahaan ini, ngerti.” Kata Mba Sinta
Mas Panji pun terdiam setiap kali Mba Sinta berkata seperti itu, seolah-olah Mba Sinta adalah penguasa disini.
“ingat Mas, kamu tuh bukan apa-apa sebelum kamu kenal aku, kamu itu Cuma penulis biasa dengan penghasilan yang menunggu omset 6 bulan sekali.” Jelas Mba Sinta tambah ketus
Mas Panji pun mulai gerah dengan semua perkataan Mba sinta.
“ok kamu adalah pemilik saham terbesar disini, tapi ingat kamu tidak bisa apa-apa tanpa bantuan pegawai-pagawai yang lain Sin, silahkan kamu pecat semua pegawaimu dan kamu bekerja sendiri. Apa kamu bisa.” Jawab Mas Panji mencoba membuat Sinta mengerti
“ooohhh Jadi sekarang Mas Panji sudah berani melawan ku semenjak kenal dengan wanita editor itu iya.” Kata Mba Sinta dan langsung beranjak dari kursi dan meninggalkan Mas Panji.

                Seusai menanyakan masalah yang terjadi kepada Mba Sinta, Mas Panji pun berniat untuk menemuiku di rumahku.
Ia pun sampai dirumahku.
                “permisi, Rena…” sahut Mas Panji
                “iya..” ibuku menjawab sambil membukakan pintu
                “Renanya ada bu?” Tanya Mas Panji kepada ibuku
                “Oh.. Rena iya ada, tunggu sebentar yaa.. mari silahkan masuk” pinta ibuku
                “iya bu makasih” jawab Mas Panji
                Mas Panji pun duduk dan menunggu Rena di ruang tamu..
Setelah menunggu beberapa menit datanglah Rena ke ruang tamu menghampiri Mas Panji.

Pembaca yang baik, apakah tujuan sebenarnya Mas Panji mendatangi Rena dirumahnya? Apakah yang akan terjadi pada Rena dan Mas Panji selanjutnya? akankah Rena justru bertengkar dengan Mas Panji? Dari pada penasaran tunggu aja kisah selanjutnya dalam Kasih Yang Tercapai Part 3.

Selasa, 05 Maret 2013

kumpulan cerpen, Tolong ..!!!


Tolong .. !!!
oleh @ajhezae
 
                Suatu pagi di tengah ramainya kota metropolitan yang megah, terdapat seorang pemulung bernama Rudi, ia berusia sekitar 30 tahun, tubuhnya sangat kurus bagai orang yang tak pernah bertemu dengan nasi dan penampilannya pun acak-acakan seperti pemulung pada umumnya. Ia memiliki seorang putri bernama Aisyah yang berum ur 3 tahun. Kondisi Aisyah tak kalah buruk dengan sang ayah, ia terlihat lemas tanpa nutrisi yang cukup. Ia berbaring dan ikut ayahnya setiap hari memulung kardus dan benda-benda yang dapat dijual kembali, ia berbaring di sebuah gerobak reot yang selalu dipakai ayahnya memulung. Setelah diselidiki mengapa Aisyah berbaring terus dalam gerobak reot itu ternyata ia sedang sakit muntaber. Aisyah sudah sakit selama 4 hari dan belum mendapatkan pertolongan sedikitpun. Sebenarnya Rudi ingin sekali membawa Aisyah ke rumah sakit atau puskesmas, namun apa boleh buat Rudi hanya mempunyai uang Rp.4000 rupiah dan itu tentunya tidak cukup untuk biaya berobat Aisyah, dia hanyalah seorang pemulung yang berpenghasilan hanya Rp.10000,- per hari. Rudi hanya bisa berharap Aisyah dapat sembuh dengan sendirinya. Sampai hari keenam, sakit yang diderita Aisyah makin betambah parah hingga ia tak kuasa menahan sakit dan menghembuskan napas terakhirnya pada sabtu pagi. Aisyah meninggal di depan sang ayah dengan keadaan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Sang ayah pun langsung menangis menyesali semua ini.
                “maafkan aku nak, aku tak bisa merawat dan menjagamu dengan baik. Semoga kau tenang di alam sana ya nak, maafkan ayah.” Ucapnya dalam tangis yang begitu dalam kepada mayat sang anak.
                Rudi lantas mngecek isi kantongnya, dan ternyata di dalam kantongnya hanya terdapat uang sebanyak Rp.6000,- dan itu tak mungkin cukup membeli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil Aisyah dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Aisyah masih terbaring dalam gerobak dengan keadaan tidak bernyawa.
                “aku tidak punya cukup uang, lebih baik Aisyah ku bawa ke kampung agar bisa dimakamkan disana, dan juga mudah-mudahan aku mendapat bantuan dari sesama pemulung disana.” Kata Rudi dalam hati sambil menangis tersenyum melihat buah hatinya.
                Tepat pukul 10:00 dengan cuaca yang cukup terik, akhirnya Rudi sampai di sebuah stasiun dengan membawa gerobak yang berisikan mayat anaknya. Dan yang tersisah hanyalah sarung yang sudah kucel yang kemudian dipakai untuk membungkus jenazah Aisyah. Kepala sang anak dibiarkan terbuka agar semua orang tahu bahwa putrinya sudah menghadap sang khalik. Ketika kereta yang akan menuju kampung halaman Rudi tiba, ia pun langsung masuk. Namun tiba-tiba salah seorang pedagang menghampiri Rudi dan menanyakan anaknya.
                “Maaf Pak, apa yang terjadi dengan anak bapak?.” Tanya pedagang itu
“Anak saya sudah meninggal bu, ia meninggal karena sakit muntaber dan tidak mendapatkan pertolongan obat sedikitpun.” Jawab Rudi dengan meratap wajah Aisyah.
“Innalilahi wa’inailaihi rojiun, kenapa tidak dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit pak?” tanyanya kembali
“saya tidak punya cukup uang untuk membawanya ke Puskesmas bu, apalagi ke Rumah Sakit, saya hanya seorang pemulung kardus yang berpenghasilan Rp.10000,- per hari. Dan sekarang saya akan membawa jenazah anak saya ke kampung untuk dimakamkan disana” Jelas Rudi
Spontan penumpang kereta yang berada di dekat Rudi dan pedagang itu terkejut mendengar penjelasan tersebut, Rudi pun langsung dibawa ke kantor polisi oleh penumpang lainnya. Dan sesampainya di kantor polisi, ia diminta agar membawa anaknya ke Rumah Sakit terdekat.
Rudi memaksa agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan, namun ia hanya bisa bersandar di tembok dan menunggu surat permintaan pulang dari Rumah Sakit tersebut sambil memandangi mayat anaknya yang terbujur kaku. Hingga pukul 15:00, akhirnya petugas Rumah Sakit mengeluarkan surat tersebut, namun lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Rudi pun terpaksa membawa jenazah anaknya ke kampung halaman dengan berjalan kaki menggendong Aisyah. Sungguh beruntung masih ada warga yang iba dan memberikan sedikit bantuan sekadarnya kepada Rudi seperti ongkos untuk pulang ke kampung halaman dan pedagang di sekitar Rumah Sakit yang melihat Rudi juga memberikan air minum kemasan untuk bekal di perjalanan.
Dalam perjalanan pulang yang sungguh mengharukan itu, Rudi terus menatap wajah anaknya dan berharap agar bisa sampai lebih cepat. Atas bantuan sekedarnya yang diberikan warga sekitar Rumah Sakit, akhirnya Rudi bisa sampai di kampung halamannya dengan menggendong  jenazah anaknya Aisyah. Sesampainya di kampung halaman Rudi langsung memberitahukan kepada para tetangganya bahwa anaknya telah meninggal, dan ia pun langsung mendapat bantuan dari sesama pemulung dan kemudian langsung memakamkan jenazah Aisyah dengan semestinya.

Selasa, 18 Desember 2012

Cerita Fiktif - Kasih Yang Tercapai Part 1


Kasih Yang Tercapai
Oleh @ajhezae

                Namaku Renata, Renata Citra Gunawan. Kegiatan sehari-hariku adalah menulis, menulis, dan menulis. Menulis adalah hobiku dan sudah banyak novel yang telah jadi namun ketika novel-novel tersebut ku kirim ke penerbit, entah mengapa penerbit selalu menolak hasil tulisanku. Namun penolakan yang terus ku terima tidak membuatku berhenti dalam menulis sebuah novel, ini semua karena cita-citaku menjadi seorang penulis sangatlah kuat dan termotivasi pula oleh sosok idolaku yakni Panji Wjijaya. Novel yang kali ini ku tulis berjudul Kasih Yang Tercapai , novel ini berkisahkan tentang aku dan Ryan. Ryan adalah sosok laki-laki yang idamanku, ia tak kalah tampat dengan penulis Panji Wijaya. Ketika novel yang kali ini ku tulis telah selesai aku ingin orang yang pertama mebaca novel ini adalah Ryan.
                Pagi yang cerah, suasana yang sejuk dan kicauan burung yang merdu membuat tidurku yang nyenyak terbangun dan menjadi lebih semangat dalam menjalani hari ini. Naskah pun selesai dan aku ingin menyerahkan naskah novel ini kepada Ryan agar ia menjadi pembaca novel ku yang pertama. Kami janjian di sebuah taman untuk bertemu dan membaca naskahnya. Dalam perjalanan jantungku terasa bergetar begitu kencang, aku selalu membayangkan bagaimana ketika nanti Ryan. “Ryan,, semoga kamu akan suka dengan novel ini dan mengerti apa maksud novel yang ku buat ini untuk kamu. Kalau kamu sudah mengerti, kamu akan jadi pacar aku deh” bayangku dalam dan berkata dalam hati ketika berada di angkutan umum. Sesampainya di taman aku telah melihat sosok Ryan yang sedang menungguku di bangku tepat di bawah pohon. Aku pun langsung menghampiri Ryan yang berada disana. Namun ketika ku ingin menghampiri Ryan, tiba-tiba datang sesosok wanita datang menghampiri Ryan dan memeluk Ryan. Lantas aku terkejut melihat pemandangan yang seperti itu, pemandangan yang jauh dari apa yang ku bayangkan, sontak aku menangis melihat kejadian itu. Aku pun segera pergi dari tempat itu dan mencoba menghilangkan semua bayangan yang ada dibenakku tentang Ryan. Aku kecewa dan sedih melihat kejadian tadi sontak ku lemparkan semua naskah yang ku bawa untuk Ryan.
                Sesampainya dirumah pada malam hari aku pun terus menangis dan terus mencoba menghilangkan bayangan tentang kejadian tadi. Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamarku “Ren, boleh kakak masuk..?” Tanya Rini, kakakku. Namun aku tak menjawab pertanyaannya, kakakku langsung masuk dan menanyakan apa yang sedang terjadi kepadaku “kamu kenapa Ren? Apa yang sedang terjadi kepadamu?” aku pun tak mau menceritakan semua kejadian yang terjadi terhadapku. Mungkin karena ku tak menjawab pertanyaannya, ia sadar bahwa aku sedang tak ingin diganggu siapa pun dan ingin menyendiri.
                Keesokan harinya Rini memberitahukanku tentang sebuah lowongan di suatu perusahaan penerbitan yaitu Era Com sebagai editor. Sontak aku pun menolaknya karena editor merupakan pekerjaan yang sangat mudah bagi orang sepertiku, sementara keinginanku adalah menjadi seorang penulis.
“apa-apaan kak, masa aku jadi editor sih, aku kan maunya jadi penulis bukan editor” kataku kepada Rini.
“iya kakak tahu kamu ingin jadi penulis, tapi apa salahnya kalu jadi editor?” jawan Rini
“gak kak, editor sama penulis itu beda, pokoknya aku gak mau” sahut Rena.
Beberapa hari kemudian saat pagi hari yang dingin ditambah hembusan angin yang menggetarkan jiwa, tiba-tiba datang Rini kakakku dan berkata,
                “hey Ren, nih ada surat dari penerbit, baca nih udah 2 hari ada di kotak surat bukannya diambil”
                “hahh, penerbit? Aku kan gak ngirim naskah ke penerbit kak?” jawabku dengan heran
                “Udah baca aja, nih” pintanya sambil menyerahkan sepucuk surat kepadaku
Ternyata isi dalam surat itu adalah surat penerimaan kerjaku sebagai editor di Era Com.
                “apa kak? Aku diterima sebagai editor, kok bisa? Aku kan gak kirim lamaran” tanyaku penuh kebingungan.
                “iya itu aku yang kirimkan lamaran untukmu ke penerbit Era Com, habisnya kamu nolak terus sih, kalo gak kaya gini kapan kamu akan mau kerja Ren? Ya sudah pokoknya besok kamu datang ke kantor itu ok.” Jawabnya
                “tapi kan kak aku gak mau jadi seorang editor” kataku dengan penuh kesal

Keesokan harinya, aku pun harus bangun lebih pagi untuk segera berangkat ke kantor guna memenuhi wawancara kerja tersebut. Ketika dalam perjalanan dan ingin menyebrang jalan aku hampir ditabrak sebuah mobil sontak aku menjerit
“hehh kalau naik mobil yang bener dong? Bisa gak sih nyetir yang bener?” teriakku dengan penuh emosi. Namun aku terkejut ketika melihat orang yang ada di dalam mobil tersebut. Dia ternyata adalah Panji Wijaya seorang penulis idolaku. Lantas aku tersenyu dibuatnya.
Sesampainya di kantor itu, aku pun langsung duduk menunggu panggilan untuk wawancara. Namun ketika aku duduk di ruang tunggu, tiba-tiba orang-orang di sekitarku mentertawakan penampilanku, entah mengapa mereka semua tertawa. Mungkin ada yang aneh dengan baju yang ku kenakan karena saat itu aku datang ke kantor dengan berpakaian yang cukup santai dengan kaos ditambah kemeja dikeluarkan dan memakai celana jeans.
Datanglah seorang wanita dan memanggil namaku
“Renata Citra Gunawan, silahkan masuk”
“iya saya” jawabku sambil menunjuk jari dan mengikuti langkah wanita itu ke dalam sebuah ruangan.
Dan apa yang terjadi, ternyata orang yang mewawancaraiku adalah Panji Wijaya, seorang penulis terkenal yang ku idolakan selama ini. Aku pun langsung duduk setalh ia memintaku.
                “nama anda Renata Citra Gunawan?” Tanya sang bos sekaligus sang penulis idolanya
“iya pak nama saya Renata Citra Gunawan, Citra adalah nama ibu saya, Gunawan adalah nama almarhum ayah saya, dan Renata sendiri adalah nama saya pak” jawabku dengan ceria
“iya cukup, lalu apa saja pengalaman anda” Tanyanya lagi dengan serius
“hmm pengalaman ya… saya sudah banyak menulis novel pak dan teman-teman saya juga banyak yang menyukai tulisan saya pak” jawabku
“baik kalau begitu, mulai besok anda bekerja disini dan datang lebih pagi kaena anda saya terima” pintanya dengan senang hati.
“terima kasih banyak pak” kataku dan kemudian berpamitan keluar ruangan.
Mendapat penerimaan kerja seperti ini membuat ku cukup gembira karena tidak lagi harus meminta uang kepada kakakku Rini. Dalam perjalanan pulang aku terus tersenyum gembira karena dapat diterima walaupun hanya sebagai editor.
                “Mamah… mahhh… aku diterima kerja di perusahaan Era Com mah” teriakku dengan penuh semangat ketika sampai dirumah.
                “tuh kan pasti kamu diterima kerja disana, semangat yaa” kata ka Rini sambil tersenyum
                “iya kak makasih ya walaupun hanya sebagai editor” jawabku
                “sudah kamu jalani saja dulu” kata mamah memberi semangat.
Aku pun bingung besok mulai bekerja harus mengenakan apa, sementara aku tak punya pakaian kantoran, aku tak mau orang-orang mentertawakanku seperti tadi lagi. Aku pun meminjam baju dan sepatu kak Rini.
               
“Kringggggg… kriiiingg…”  suara alarm berbunyi nyaring bertanda sudah pagi
  Aku pun terbangun dan memulai aktifitas yang baru ini, aku memakai pakaian yang ku pinjam dari kak Rini. Aku tidak terbiasa memakai pakaian dress seperti ini dengan sepatu hak tinggi karena ini bukanlah cirri-ciriku. Dengan sangat terpaksa dan sangat susah dalam berjalan aku terus mencoba untuk berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor aku berpapasan dengan Pak Panji, dia melihatku yang sedang terpeletot dengan sepatu hak tinggi ang ku pakai ini.
“gak nyaman kan?” sahut Mas Panji
“hmmm iya mas” jawabku
“besok-besok kalau gak nyaman gak usah dipakai, besok pakai jeans seperti biasa saja ya” pinta mas Panji dengan tersenyum.
“baik mas, kalau begitu”
Saat makan siang aku tak sengaja mendengarkan pembicaraan Mas Panji dengan salah seorang wanita yang aku sendiri tidak tahu itu siapa.
                “aku dengar kamu merekrut pegawai baru, benar?” Tanya sang wanita
                “iya benar, aku merekrut seorang editor namanya Renata Citra Gunawan” jawab Mas Panji
                “oh sampai hapal banget namanya, istimewa banget ya” kata wanita itu
“gak, bukannya gitu sin, abisnya dia tuh orangnya unik dan aneh, cocok dengan criteria editor yang sedang aku cari untuk mengedit drama komedy” jawab Mas Panji berusaha menjelaskan
“gitu ya, semoga saja drama komedynya gak berubah jadi drama romantic” sahut wanita itu dan langsung meninggalkan Mas Panji.
“sin, maksud kamu apa sin..?” Tanya Mas Panji
Belum pertanyaan itu terjawab, sang wanita segera pergi dari tempat itu.
Keesokan harinya ketika aku sampai di kantor dengan terburu-buru, aku tak sengaja menabrak seorang wanita dan kemudian ia memarahiku.
                “hati-hati dong kalo jalan, punya mata kan?” katanya dengan ketus
“yee kamu tuh yang gak punya mata nabrak orang malah marah-marah” jawabku
membela diri
                “kamu gak tahu siapa saya? Tanya wanita itu
                “tahu, kamu pasti orang baru yang mau melamar kerja disini kan?” jawabku meledek
“inget ya, aku Sinta, pemilik saham terbesar disini dan saya adalah bos anda, jangan macem-macem terhadap saya, ok!” jelasnya dengan sangat kesal
“mmm… maaf mba, maaf”, pintaku dengan hati deg-degan.

Setelah kejaidan itu aku pun langsung pergi kedalam kantor dan kembali mengerjakan tugasku sebagai editor. Namun beberapa saat kemudian tiba-tiba teman-teman pegawai menyerahkan begitu banyak naskah untuk segera diedit dan semua pekerjaan tersebut harus segera diselesaikan paling lambat 2 hari lagi. Aku pun pusing dibuatnya, begitu banyak naskah yang harus diselesaikan, belum lagi ada naskah yang harus diselesaikan esok hari, ini membuatku stress. Tetapi dengan tekad yang kuat aku harus mengerjakan pekerjaan ini dengan serius dan ikhlas. Hingga larut malam aku terus bekerja dan tanpa disengaja aku tertidur di meja kerjaku.
                “Ren, rena… bangun ren….” Sahut Mas Panji yang melihat ku tertidur
                “hhhh,, iya Mas, maaf saya ketiduran” jawabku dengan mata yang masih mengantuk
                “pulang sana Ren sudah malam, pekerjaanmu boleh dibawa pulang koq.” Kata Mas Panji
                “hhmmm baik Mas kalau begitu” jawabku kembali sambil membereskan semua pekerjaanku
                “saya duluan ya Ren” kata Mas Panji
                “iya mas” jawabku dengan senyum.

Melihat  jam menunjukkan pukul setengah 12, aku pun segera berjalan pulang, aku berjalan sambil menunggu datangnya sebuah ankutan umum yang biasa ku tumpangi, namun sejauh aku berjalan, tak ada satu pun angkutan yang lewat. Di malam yang larut dan sepi sunyi sepeti ini, tentunya sebagai seorang wanita aku pun merasa takut berjalan sendirian. Tiba-tiba lewatlah sebuah mobil dan berhenti di depanku, aku tidak mengetahui siapa yang ada di dalam sana.

Pembaca yang baik, tahukah kalian siapa orang yang berada di dalam mobil dan berhenti di depan Rena tersebut, apakah yang akan terjadi dengan Rena? Dan apakah dia akan baik-baik saja, tunggu kelanjutannya dalam Part 2 ok.